The 2nd English Education International Conference (EEIC) Universitas Syiah Kuala resmi ditutup pada 19 September 2019 di Gedung AAC Dayan Dawood, Darussalam, Banda Aceh. Dalam penutupan ini, juga diumumkan Best Paper Award, dan Best Presenter Award.
Tiga Best Paper Award terpilih adalah The Humors during the Wars in Aceh: To Forgive but not to Forget (Jarjani Usman dan Fauzan), Communicative Reportoires Used by Students with Multicultural Backgrounds in ESL Writing Classroom (Firman Parlindungan dan Lia Lisyati), dan The Relationship between Human and Nature beside the Story of Mak Ungkai: An Ecocritical Approach (Tomi Ariyanto dan Dairi Sapta Rindu Simanjuntak).
Sedangkan Meinarni Susilowati terpilih sebagai Best Presenter Award dengan judul paper, When EFL Classroom Interactions Matter: The Students' Identity Construction.
Seperti diketahui sebanyak 500 akademisi dan peneliti dari enam negara di dunia, 18-19 September 2019, mengikuti konferensi AIC. Konferensi internasional dalam rangka milad Unsyiah ke-58 tahun itu, membahas tentang ilmu pengetahuan, riset, kesehatan, sosial, hingga teknologi.
Akademisi, peneliti, dan praktisi dari berbagai bidang ilmu itu berasal dari Indonesia, Malaysia, Jepang, Australia, Brunei Darussalam, dan Peru.
“Sedikitnya ada 330 makalah yang dibahas dalam konferensi ini,” ujar Rektor Unsyiah, Prof. Dr. Ir. Samsul Rizal, M.Eng., saat membuka konferensi itu, Rabu (18/9).
Rektor mengatakan konferensi ini adalah forum efektif bagi para akademisi, peneliti, dan praktisi untuk memperkuat kerja sama akademis dan industri. Mereka dapat saling berkolaborasi untuk meningkatkan penelitian dan inovasi, sehingga tujuan yang ingin dicapai dapat lebih mudah dan efisien.
“Akademisi dan industri tidak boleh bekerja sendiri, tetapi harus berkolaborasi. Dengan demikian, kita dapat mengubah lingkungan dan kehidupan lebih baik,” pungkasnya. (Humas Unsyiah/fer)