
Nilam Aceh Heritage (NAH), satu perkumpulan gerakan masyarakat pelestari dan pemanfaatan nilam Aceh memberikan penghargaan "Award Nilam Hertage 2019" kepada Prof Dr Syamsul Rizal (Rektor Unsyiah), Zainal Arifin Lubis (Kepala Bank Indonesia Provinsi Aceh), dan Dr. Syaifullah Muhammad, ST, M.Eng, (Kepala Atsiri Research Center Unsyiah).
Award Nilam Hertage 2019 diserahkan langsung Ketua NAH, Irun Sani SE. MM didampingi sekretaris Muhammad Makmun S.Hi. MH , dalam pertemuan akhir tahun Bank Indonesia yang berlangsung di AAC Dayan Daod, Senin (16/12).
Penghargaan ini, kata Irun, diberikan kepada Prof. Dr. Ir. Samsul Rizal, atas dedikasi dan kontribusinya sebagai pimpinan perguruan tinggi yang melahirkan Atsiri Research Center (ARC) yang saat ini ditetapkan oleh Kemenristek sebagai Pusat Unggulan Iptek (PUI) Nilam di Indonesia.
Prof. Samsul juga membuat banyak kebijakan termasuk mengalokasikan anggaran cukup besar untuk penelitian dan pengabdian yang mendukung pengembangan nilam Aceh. Selain itu, juga melakukan berbagai ekspose di tingkat daerah, nasional, dan internasional terkait Nilam Aceh.
"Untuk pertama kalinya dalam sejarah, Rektor Unsyiah menandatangani perjanjian dengan Perancis untuk melindungi harga beli minyak nilam masyarakat. Ini luar biasa, nilam masyarakat dipastikan akan dibeli dengan harga yang baik," jelas Irun.
Penghargaan juga diberikan kepada Zainal Arifin Lubis, Kepala Bank Indonesia Provinsi Aceh, yang telah berkontrubusi sebagai advisor strategi pengembangan hulu-hilir industri nilam Aceh. Bank Indonesia juga melakukan Piloting Program Local Economic Development (LED) Nilam di Kabupaten Aceh Jaya melalui penyediaan pembibitan, lahan percontohan, mesin produksi penyulingan Nilam dan berbagai prigram community development terkait nilam Aceh. Zainal Arifin juga berkontribusi dalam mengkomunikasikan nilam Aceh di berbagai forum daerah, nasional, dan internasional.
Penghargaan NAH 2019 juga diberikan kepada Dr Syaifullah Muhammad ST, M.Eng, Kepala ARC-PUI PT Nilam Universitas Syiah Kuala, yang telah merumuskan roadmap dan masterplan inovasi pengembangan industri nilam Aceh.
ARC selain melakukan penelitian terkait Nilam Aceh juga telah memproduksi berbagai produk turunan minyak Nilam yang memberi nilai tambah bagi masyarakat. Selain itu, ARC telah melaksanakan berbagai pelatihan dan melahirkan start up baru bisnis produk turunan masyarakat.
"Dengan teknologi vakum distillation, ARC sudah mampu memproduksi hi-grade patchouli dengan kandungan patchouli alkohol 60-80 persen. Produk ini kemudian digunakan sebagai fiksatif (pengikat aroma) dalam memproduksi parfum Neelam," Irun menambahkan.
Keberhasilan hilirisasi produk penelitian kampus khususnya Unsyiah melalui ARC di bidang nilam tersebut membuat Menristek RI pada tahun 2019 menetapkan ARC Unsyiah sebagai Pusat Unggulan Iptek dan Pusat Inovasi Nilam secara Nasional.
"Saat ini berbagai kunjungan nasional dan tamu internasional berdatangan ke Aceh," kata Irun Sani.
Dikatakan, saat ini nilam Aceh yang memiliki kualtas terbaik di dunia, saatnya dibangkitkan setelah tenggelam puluhan tahun. Saat ini, kelompok masyarakat, petani, pemerintah daerah, dan pihak swasta termasuk generasi milenial yang mulai menekuni berbagai bisnis starup yang menggunakan nilam.
NAH terus berupaya mengapresiasi pihak-pihak yang turut memuliakan dan melestarikan nilam sebagai warisan budaya masyarakat Aceh secara turun-temurun.
Lembaga Nilam Aceh Heritage (NAH) merupakan perkumpulan masyarakat sipil yang diisi berbagai latar profesi, bertujuan mengangkat kembali kejayaan nilam Aceh sebagai warisan budaya yang berdampak pada perbaikan taraf hidup masyarakat. []