Universitas Syiah Kuala

Farmasi USK Masuk Tujuh Besar Nasional dan Tembus 43 Besar ASEAN di SIR 2025

Universitas Syiah Kuala (USK) mencatat capaian mebanggakan pada pemeringkatan internasional SCImago Institutions Rankings (SIR) 2025 bidang Pharmacology, Toxicology and Pharmaceutics. Dalam pemeringkatan tersebut, USK menempati peringkat ketujuh di Indonesia, peringkat ke-43 di kawasan ASEAN, dan peringkat ke-2.754 dunia.

Capaian ini mencerminkan perkembangan kinerja akademik dan penelitian USK dalam bidang yang berkaitan dengan farmakologi, toksikologi, dan farmasi. Salah satu bidang yang berkontribusi dalam perkembangan tersebut adalah Departemen Farmasi Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) USK.

SCImago Institutions Rankings merupakan pemeringkatan institusi yang menilai kinerja berdasarkan tiga kelompok utama, yaitu penelitian, inovasi, dan dampak sosial. Pada aspek penelitian, indikator yang digunakan antara lain mencakup produktivitas dan kualitas publikasi ilmiah, dampak penelitian, kepemimpinan ilmiah, kolaborasi internasional, serta publikasi berkualitas tinggi.

Dekan FMIPA USK, Prof. Dr. rer. nat. Ilham Maulana, S.Si., mengatakan capaian tersebut menjadi bagian dari perkembangan positif Farmasi USK yang tergolong sebagai salah satu program studi yang relatif muda di lingkungan FMIPA.

“Farmasi adalah salah satu program studi muda di FMIPA USK, tetapi dalam perkembangannya mendapat respons yang sangat baik dari mahasiswa. Karena itu, capaian di SCImago ini tentu menjadi kebanggaan bagi FMIPA dan USK,” ujar Ilham.

Menurutnya, capaian tersebut sekaligus menjadi dorongan bagi Farmasi USK untuk terus meningkatkan kualitas pendidikan dan penelitian.

“Yang lebih penting, prestasi ini harus menjadi pemacu untuk terus meningkatkan kualitas pendidikan, penelitian, dan kontribusi Farmasi bagi masyarakat,” lanjutnya.

Departemen Farmasi USK berdiri pada 2011. Dalam perkembangannya, departemen ini menaungi Program Studi Sarjana Farmasi dan Program Studi Pendidikan Profesi Apoteker.

Kehadiran kedua program tersebut menjadi bagian dari upaya USK menyiapkan sumber daya manusia di bidang kefarmasian yang memiliki kompetensi akademik sekaligus profesional.

Lulusan Farmasi USK telah berkiprah di berbagai sektor pelayanan dan industri kesehatan, antara lain rumah sakit, industri farmasi, Pedagang Besar Farmasi (PBF), apotek, fasilitas pelayanan kesehatan, hingga bidang penelitian.

Perkembangan pendidikan kefarmasian juga terus diselaraskan dengan kebutuhan masyarakat dan dunia kesehatan yang semakin kompleks. Tenaga kefarmasian dituntut tidak hanya memiliki pemahaman akademik, tetapi juga mampu mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Di bidang penelitian, Farmasi USK mengembangkan berbagai kajian yang berkaitan dengan kebutuhan kesehatan masyarakat sekaligus potensi sumber daya alam lokal.

Salah satu bidang yang menjadi perhatian adalah pemanfaatan biodiversitas Aceh dan Indonesia untuk penelitian bahan alam, kandidat bahan aktif, pengembangan produk farmasi, serta berbagai inovasi yang berpotensi dikembangkan lebih lanjut.

Pengembangan riset tersebut berjalan melalui berbagai bidang keilmuan, antara lain farmasi klinis, farmasi komunitas, teknologi farmasi, kimia medisinal, farmakologi dan toksikologi, biologi farmasi, serta bidang kefarmasian lainnya.

Pada bidang farmasi klinis, penelitian antara lain diarahkan untuk mendukung penggunaan obat yang efektif, aman, dan rasional. Sementara itu, bidang farmasi komunitas berkaitan dengan penguatan edukasi dan pelayanan kefarmasian kepada masyarakat.

Keragaman bidang penelitian tersebut menjadi bagian dari upaya Farmasi USK menghasilkan riset yang tidak hanya memiliki nilai akademik, tetapi juga relevan dengan kebutuhan masyarakat dan perkembangan sektor kesehatan.

Perkembangan Farmasi USK juga ditopang oleh sumber daya manusia. Saat ini, Departemen Farmasi diperkuat oleh 23 dosen dan lima tenaga kependidikan.

Para dosen memiliki kepakaran pada berbagai bidang, seperti farmakologi dan toksikologi, kimia medisinal, biologi farmasi, teknologi farmasi, farmasi klinis, dan farmasi komunitas.

Keragaman kepakaran tersebut mendukung pelaksanaan pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat sekaligus membuka ruang pengembangan penelitian secara multidisiplin.

Mahasiswa dan alumni juga menjadi bagian penting dalam ekosistem akademik Farmasi USK. Para alumni telah berkiprah di berbagai sektor kesehatan di Indonesia, sehingga turut menjadi bagian dari kontribusi Farmasi USK kepada masyarakat.

Kepala Departemen Farmasi USK, Tedy Kurniawan Bakri, M.Farm., Apt., mengatakan capaian pada SIR 2025 merupakan hasil kerja bersama seluruh sivitas akademika.

“Capaian ini merupakan hasil kerja bersama, mulai dari dosen, tenaga kependidikan, mahasiswa hingga alumni. Ke depan, kita akan terus memperkuat kolaborasi penelitian dan meningkatkan publikasi ilmiah,” ujar Tedy.

Ia mengatakan, Farmasi USK juga akan terus mendorong pemanfaatan hasil penelitian serta memperluas jejaring kerja sama, baik di tingkat nasional maupun internasional.

Upaya tersebut diarahkan untuk membangun ekosistem akademik yang semakin kuat, di mana penelitian tidak berhenti pada publikasi ilmiah, tetapi dapat berkembang menjadi inovasi dan memberikan manfaat bagi masyarakat.

Bagi FMIPA USK, capaian peringkat ketujuh nasional dan ke-43 ASEAN dalam SIR 2025 menjadi salah satu pijakan untuk terus mengembangkan pendidikan dan penelitian di bidang kefarmasian.

Dengan penguatan sumber daya manusia, budaya akademik, penelitian, serta jejaring kolaborasi, Farmasi USK terus diarahkan untuk meningkatkan kontribusinya dalam pengembangan ilmu kefarmasian dan mendukung kebutuhan bidang kesehatan, baik di tingkat daerah, nasional maupun internasional.