Universitas Syiah Kuala (USK) kembali menegaskan komitmennya terhadap riset, pelestarian lingkungan, dan kolaborasi global melalui penyelenggaraan The 8th International Conference on Fisheries, Aquatic, and Environmental Sciences (ICFAES) 2026. Konferensi internasional yang diinisiasi oleh Fakultas Kelautan dan Perikanan (FKP) USK ini resmi dibuka di Gedung AAC Dayan Dawood, Banda Aceh, Selasa, 15 September 2026.
Mengusung tema Resilient Aquatic Ecosystems in the Era of Climate Change, konferensi tahunan ini menghadirkan akademisi, peneliti, praktisi, dan mahasiswa dari berbagai negara guna merumuskan strategi nyata dalam menjaga keberlanjutan sumber daya perairan di tengah tantangan krisis iklim global.
Wakil Rektor Bidang Akademik, Prof. Dr. Heru Fahlevi, S.E., M.Sc., Ak., CA., dalam sambutannya menyampaikan bahwa Aceh merupakan wilayah yang sangat lekat dengan dinamika laut serta memiliki ketahanan yang kuat dalam menghadapi berbagai tantangan alam.
Oleh karena itu, tema ketahanan ekosistem akuatik sangat relevan dengan upaya global untuk mewujudkan SDG 13 (Penanganan Perubahan Iklim) dan SDG 14 (Ekosistem Laut) dalam menjaga kelestarian keanekaragaman hayati pesisir serta mendukung kehidupan masyarakat yang bergantung pada sektor kelautan.
“Aceh adalah tempat yang dikenal sebagai titik pertemuan darat dan laut, serta memahami betul arti bangkit dengan ketahanan. Konferensi ini menjadi wujud nyata misi USK dalam menempatkan kolaborasi internasional dan riset yang berdampak langsung bagi masyarakat, sejalan dengan komitmen global terhadap pembangunan berkelanjutan,” ujar Prof. Heru.

Ia menambahkan, luaran dari konferensi ini diarahkan ke jurnal terindeks Scopus serta jurnal terakreditasi nasional, sehingga rekomendasi yang dihasilkan dapat diterjemahkan secara nyata ke dalam kebijakan pengelolaan lingkungan, mitigasi perubahan iklim, serta penguatan ketahanan pangan berbasis perairan yang inklusif sebagaimana ditekankan dalam SDG 2 (Tanpa Kelaparan) dan SDG 17 (Kemitraan untuk Mencapai Tujuan).
Sementara itu, Ketua Panitia Pelaksana, Dr. Syahrul Purnawan, S.Pi., M.Si., dalam laporan kegiatannya menyampaikan bahwa konferensi tahun ini menerima 97 abstrak untuk presentasi lisan maupun poster.
“Karya tersebut berasal dari 66 institusi yang mencakup universitas, lembaga riset nasional, lembaga swadaya masyarakat, serta industri dari 12 negara, di antaranya Britania Raya, Italia, Belgia, Thailand, Filipina, Bangladesh, Malaysia, Nigeria, India, Jepang, Pakistan, dan Indonesia,” ungkapnya.
Konferensi ini menghadirkan empat pembicara utama (keynote speakers) internasional dan daring, yaitu Dr. Hollie Booth dari Universitas Oxford dan Yayasan Kebersamaan untuk Lautan, Dr. Tom Bech Letessier dari Universitas Plymouth, Dr. Stefano Vignudelli dari Consiglio Nazionale delle Ricerche Italia, serta Dr. Joana Dias dari Luminocean Foundation.
Selain itu, forum ini juga diisi oleh tujuh pembicara undangan (invited speakers) dari berbagai universitas dalam dan luar negeri serta mitra industri, termasuk PT Astra Agro Lestari Tbk yang turut memberikan dukungan dalam penyelenggaraan acara ini bersama Yayasan Kebersamaan untuk Lautan dan Wildlife Conservation Society (WCS), sebagai bentuk nyata sinergi lintas sektor dalam mendorong pembangunan ekonomi hijau dan pelestarian lingkungan jangka panjang.