Universitas Syiah Kuala

Mahasiswa Kiel University Jerman Kulik Sejarah Perdamaian dan Otonomi Khusus Aceh di FH USK

Pengalaman Aceh dalam melewati masa konflik, merawat perdamaian, hingga menerapkan otonomi khusus dan hukum Islam menjadi sorotan utama dalam kunjungan akademik mahasiswa Kiel University, Jerman, ke Fakultas Hukum Universitas Syiah Kuala (FH USK).

Agenda tersebut dikemas melalui seminar internasional bertajuk “Exploring Aceh’s Special Autonomy, Islamic Law, and Sultanate Heritage” yang dihelat oleh International Class Program (ICP) FH USK di Aula Fakultas Hukum USK, Selasa (8/9/2026). Kegiatan ini menjadi ruang strategis pertukaran pengetahuan antarakademisi lintas negara.

Dekan FH USK, Prof. Dr. Zahratul Idami, S.H., M.Hum., menjelaskan bahwa kunjungan ini membuka kesempatan penting untuk memperkenalkan rekam jejak Aceh kepada dunia internasional melalui perspektif hukum, sejarah, budaya, dan resolusi konflik.

“Aceh memiliki pengalaman yang sangat khas dalam perjalanan dari konflik menuju perdamaian. Pengalaman tersebut penting untuk dibagikan karena mengandung pembelajaran tentang hukum, demokrasi, dan bagaimana masyarakat membangun masa depan,” ujar Zahratul, Kamis, 9 September 2026.

Dalam seminar tersebut, Zahratul memaparkan materi bertajuk “A Journey from Resistance to Peace in Modern Aceh: Special Autonomy, Sharia Law, Conflict, and Democratization”. Ia mengupas tuntas transisi historis Aceh, perkembangan hukum, implementasi otonomi khusus dan syariat Islam, hingga dinamika demokratisasi modern.

Sementara itu, akademisi Kiel University, Dr. Cosima, membawakan perspektif interdisipliner lewat materi “Cultural Geography and Board Games”. Ia mengulas cara mempelajari geografi budaya melalui media pembelajaran interaktif berupa permainan papan, guna memperkenalkan pendekatan kreatif dalam memahami struktur masyarakat.

Diskusi yang berlangsung interaktif mencairkan suasana. Para mahasiswa Kiel University dan FH USK terlibat dalam dialog kritis mengenai dinamika perdamaian Aceh, penerapan hukum Islam, serta jejak warisan Kesultanan Aceh yang masih hidup dalam tatanan sosial hari ini.

Dr. Cosima menilai student visit ini memberikan pengalaman empiris yang memperkaya pemahaman akademik mahasiswanya di luar ruang kelas konvensional.

“Aceh memiliki sejarah dan budaya yang sangat menarik untuk dipelajari secara langsung. Pertemuan dengan mahasiswa dan akademisi di sini memberikan perspektif baru yang tidak selalu bisa diperoleh hanya melalui buku,” kata Cosima.

Bagi FH USK, kegiatan ini sekaligus memperkuat posisi institusi dalam kancah akademik global serta merajut kolaborasi berkelanjutan dengan Kiel University. Jalinan kemitraan ini diarahkan untuk merambah ranah riset bersama, pertukaran sivitas akademika, hingga program pendidikan bersama.

Rangkaian kunjungan ini juga merefleksikan komitmen FH USK terhadap pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), terutama SDG 4 tentang Pendidikan Berkualitas, SDG 16 tentang Perdamaian, Keadilan, dan Kelembagaan yang Tangguh, serta SDG 17 tentang Kemitraan untuk Mencapai Tujuan.