Universitas Syiah Kuala

USK Bina Karakter 8.000 Mahasiswa Baru Lewat MKPK I, Perkuat Ketahanan Mental Generasi Z

Universitas Syiah Kuala (USK) membina karakter sedikitnya 8.000 mahasiswa baru melalui rangkaian Mata Kuliah Pembinaan Karakter (MKPK) I yang diawali dengan Salat Subuh berjemaah di Masjid Jamik Darussalam, Kampus USK, Banda Aceh, Sabtu-Minggu (29-30/8).

Kegiatan tersebut mengusung tema “Membangun Gen Z yang Berkarakter Kuat dan Sehat Mental serta Mampu Menangkal Isu LGBT, Bullying, Judol, dan Narkoba”. MKPK I menjadi bagian dari upaya USK membangun karakter mahasiswa baru sekaligus memperkuat ketahanan mental mereka dalam menghadapi berbagai tantangan kehidupan di era digital.

Pelaksanaan kegiatan dibagi dalam dua sesi. Sesi pertama pada Sabtu (29/8) diikuti mahasiswa baru Fakultas Teknik, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Fakultas Hukum, Fakultas Kedokteran Gigi, Fakultas Keperawatan, serta Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik. Sementara sesi kedua pada Minggu (30/8) diikuti mahasiswa dari Fakultas Kedokteran Hewan, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Fakultas Kedokteran, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Fakultas Kelautan dan Perikanan, serta Fakultas Pertanian.

Kegiatan dimulai sekitar pukul 05.00 WIB dengan pelaksanaan Salat Subuh berjamaah. Ribuan mahasiswa baru berkumpul di Masjid Jamik Darussalam sebagai bagian dari awal perjalanan mereka menempuh pendidikan tinggi di USK.

Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan dan Kewirausahaan USK, Dr. Rina Suryani Oktari, S.Kep., M.Si., FRSPH, mengatakan pembinaan karakter mahasiswa tidak berhenti pada kegiatan pengenalan kampus. Menurut dia, USK menyiapkan sistem pembinaan berkelanjutan melalui sejumlah unit dan layanan mahasiswa.

“USK serius membina karakter mahasiswa. Tidak hanya memberikan pembekalan di awal, tetapi membangun ekosistem pembinaan berkelanjutan melalui UPT Pendidikan Agama dan Pembinaan Karakter, layanan konseling, Unit Pencegahan dan Penanganan Kekerasan di Perguruan Tinggi, serta Unit Pencegahan dan Pemberantasan Penyalahgunaan dan Peredaran Gelap Narkotika,” katanya.

Menurut dia, penguatan pembinaan juga dilakukan hingga tingkat fakultas agar mahasiswa lebih mudah memperoleh akses layanan ketika menghadapi persoalan.

“Supaya mahasiswa tahu ketika menghadapi persoalan, mereka tidak sendirian. Ada sistem dan layanan yang dapat diakses. Penguatan di tingkat fakultas penting agar pencegahan semakin masif dan mahasiswa mendapatkan layanan yang cepat, mudah, dan dekat dengan lingkungan mereka,” ujarnya.

Dr. Rina menambahkan, perhatian kampus juga mencakup persoalan kesejahteraan mahasiswa, termasuk ketika menghadapi kesulitan ekonomi. USK, kata dia, menyediakan sejumlah program bantuan melalui Rumah Amal Masjid Jamik USK.

Program tersebut antara lain beasiswa, Pintas atau pinjaman tanpa syarat, serta Bandar atau bantuan darurat. Bantuan itu disiapkan agar mahasiswa yang mengalami persoalan finansial memiliki alternatif solusi dan tidak terjerat pinjaman online maupun judi online.

“Kehadiran program-program ini penting agar mahasiswa yang menghadapi kesulitan finansial memiliki akses terhadap bantuan yang aman dan tidak terjerat pinjaman online maupun judi online,” tegasnya.

Ia meminta mahasiswa tidak ragu memanfaatkan layanan yang telah disediakan kampus ketika menghadapi persoalan akademik, ekonomi, sosial, maupun pribadi.

“Jangan ragu untuk datang, berkonsultasi, dan meminta bantuan. Yang terpenting, mahasiswa mengetahui bahwa ada tempat yang aman untuk mencari solusi,” ujar Dr. Rina.

Melalui MKPK I, USK menargetkan mahasiswa baru tidak hanya memiliki kemampuan akademik, tetapi juga karakter, integritas, ketahanan mental, dan tanggung jawab sosial. Pembinaan tersebut diharapkan dapat menciptakan lingkungan kampus yang aman, sehat, dan suportif serta mencegah mahasiswa terjerumus dalam berbagai perilaku berisiko.