Universitas Syiah Kuala

Jalan Penuh Liku Alumni USK Nurun Nazary Membangun Bisnis Parfum Meutuah di Usia Muda.

Jauh sebelum memiliki PT Kana Marun Sejahtera dan brand Meutuah, Nurun Nazary alumni  Teknik Industri, Fakultas Teknik Universitas Syiah Kuala sudah mengenal dunia usaha sejak 2019. Jalan penuh liku dalam merintis ini berhasil ia lalui berkat ketekunan dan keyakinannya untuk menjadi seorang pengusaha di usia muda.

Saat itu, Nurun masih sangat muda dan memulai semuanya dari hal sederhana, yaitu menitipkan makanan untuk dijual setiap pagi. Dari sana, perjalanan usahanya terus berkembang. Ia pernah berjualan berbagai olahan pisang seperti piscok, kemudian mencoba berjualan seblak menggunakan kontainer kaki lima.

Dalam perjalanan tersebut, tempat berjualan beberapa kali harus berpindah, bahkan mengalami penggusuran. Modal pertama pun bukan berasal dari investasi besar, melainkan dari uang jajan yang dikumpulkannya sedikit demi sedikit.

Ada masa ketika kehidupan dan usaha harus dijalankan dalam kondisi yang sangat terbatas. Berawal dari sepetak kamar kos berukuran sekitar tiga meter yang juga dipenuhi barang-barang jualan. Ruang yang sempit tersebut menjadi bagian dari kehidupan yang ia jalani ketika sedang membangun usaha.

“Dulu benar-benar mulai dari kecil. Modalnya dari uang jajan. Pernah tinggal di kamar yang ukurannya kecil sekali, sekitar tiga meter, dan barang-barang jualan juga ada di situ. Jadi memang semuanya bercampur,” kenang Nurun.

Perjalanan tersebut tidak selalu berakhir dengan keberhasilan. Ada masa ketika ia merasa sangat lelah dan hampir menyerah. Beberapa kali ia juga harus mengambil keputusan sulit, termasuk memberhentikan karyawan ketika outlet yang dijalankan harus ditutup.

Namun, pengalaman tersebut justru menjadi bagian penting dari proses belajarnya. Dari setiap usaha yang pernah dijalankan, Nurun mulai memahami bahwa membangun bisnis bukan hanya tentang menjual produk dan mendapatkan keuntungan. Ada persoalan mengenai pengelolaan sumber daya, proses produksi, pemasaran, keuangan, tim, hingga bagaimana mengambil keputusan ketika kondisi tidak sesuai dengan rencana.

Di tengah perjalanan tersebut, Nurun juga memiliki kebiasaan yang kemudian membuka banyak peluang baru. Ia aktif mengikuti berbagai pelatihan dan kompetisi kewirausahaan.

Baginya, mengikuti kegiatan tersebut bukan hanya untuk mendapatkan penghargaan. Setiap pelatihan dan kompetisi menjadi kesempatan untuk belajar sekaligus bertemu dengan orang-orang baru.

“Saya suka ikut pelatihan dan kompetisi karena dari sana saya bisa belajar banyak hal dan membangun relasi. Kadang kita datang karena ingin belajar sesuatu, tapi ternyata pulang membawa koneksi baru, informasi baru, bahkan peluang baru,” ujarnya.

Salah satu peluang tersebut kemudian membawa Nurun ke arah yang berbeda dari usaha-usaha sebelumnya.

Suatu ketika, ia mengikuti sebuah pelatihan yang berkaitan dengan produk turunan nilam. Dari kegiatan tersebut, ia mulai mengenal lebih jauh potensi nilam Aceh dan bagaimana bahan lokal tersebut dapat dikembangkan menjadi produk bernilai tambah.

Pengalaman itu menjadi titik penting dalam perjalanan usahanya. Setelah sebelumnya banyak berkecimpung di bidang makanan dan minuman, Nurun kemudian memberanikan diri mencoba sesuatu yang benar-benar baru.

Ia mulai membangun sebuah brand yang berbeda dari pengalaman bisnis sebelumnya, yaitu Meutuah.

Pada 2024, ketika masih menjadi mahasiswa Universitas Syiah Kuala, usaha tersebut mulai dikembangkan secara lebih serius. Seiring berjalannya waktu, Meutuah berkembang menjadi PT Kana Marun Sejahtera dan memiliki dua lini produk, yaitu Meutuah Parfum dan Meutuah Clean.

Melalui Meutuah Parfum, Nurun mengembangkan beberapa varian parfum seperti Meurah, Suke, dan Haliya dengan membawa potensi nilam Aceh sebagai salah satu bagian dari identitas produknya. Tidak hanya memasarkan produk dengan merek sendiri, Meutuah juga mulai dipercaya oleh beberapa brand untuk mengerjakan produksi secara maklon.

Sementara melalui Meutuah Clean, Nurun mengembangkan produk sabun cuci piring yang menyasar kebutuhan usaha kuliner dan dapur dalam skala lebih besar, termasuk dapur MBG.

Menariknya, ketika memulai Meutuah, respons yang diterima Nurun justru cukup berbeda dari pengalaman-pengalaman usahanya sebelumnya. Brand baru tersebut mendapat dukungan yang besar dari orang-orang di sekitarnya.

“Waktu mulai Meutuah, saya sebenarnya masuk ke bidang yang cukup berbeda dari pengalaman saya sebelumnya. Tapi ternyata banyak yang mendukung. Dari situ saya merasa bahwa mungkin ini adalah jalan yang memang perlu saya coba dan kembangkan,” katanya.

Di sisi lain, latar belakangnya sebagai mahasiswa Teknik Industri USK turut memberikan bekal yang penting. Ilmu yang dipelajari di bangku kuliah membuatnya terbiasa melihat sebuah usaha bukan hanya dari sisi produk, tetapi juga dari sisi sistem.

“Selama kuliah di Teknik Industri, saya belajar bahwa sebuah usaha perlu punya sistem. Bukan hanya bagaimana membuat produk, tetapi juga bagaimana mengatur proses produksi, bahan baku, kualitas, pemasaran, sampai bagaimana pekerjaan bisa berjalan bersama tim,” ujar Nurun.

Menurutnya, ilmu mengenai proses, efisiensi, pengendalian kualitas, perencanaan, serta pengelolaan sumber daya dapat diterapkan secara langsung dalam mengembangkan usaha.

Selain ilmu akademik, Nurun juga merasakan bahwa USK memberikan ruang yang luas untuk berkembang. Kegiatan kewirausahaan, pelatihan, kompetisi, pendampingan, pemasaran, pendanaan, serta relasi yang dibangun selama menjadi mahasiswa menjadi bagian dari perjalanan yang membentuk dirinya sebagai seorang pengusaha.

“USK memberikan banyak ruang untuk belajar dan mencoba. Bukan hanya dari perkuliahan, tetapi juga dari orang-orang yang ditemui, kegiatan yang diikuti, kesempatan untuk memasarkan produk, sampai pengalaman mengikuti program kewirausahaan. Semua itu akhirnya saling terhubung dengan perjalanan usaha saya,” tuturnya.

Kini, PT Kana Marun Sejahtera telah berkembang dan melibatkan lima orang dalam kegiatan usahanya. Dari pengalaman berjualan makanan dengan modal uang jajan, berpindah-pindah tempat, menghadapi penggusuran, mengalami masa hampir menyerah, hingga akhirnya membangun brand produk turunan nilam dan sabun cuci piring, perjalanan Nurun menunjukkan bahwa arah sebuah usaha terkadang baru terlihat setelah seseorang berani mencoba banyak hal.

Bagi Nurun, perjalanan tersebut juga mengajarkan bahwa kegagalan tidak selalu berarti harus berhenti. Beberapa usaha yang pernah dijalankannya memang tidak bertahan, tetapi pengalaman dari usaha-usaha tersebut justru menjadi bekal ketika ia membangun sesuatu yang baru.

Ke depan, Nurun ingin membawa Meutuah berkembang lebih jauh, tidak hanya menjadi brand yang dikenal di Aceh tetapi juga mampu menjangkau pasar yang lebih luas. Ia berharap usaha yang dibangunnya dapat terus menciptakan lapangan kerja, mengembangkan produk berbasis potensi lokal, dan memberikan manfaat bagi lebih banyak orang.

Perjalanan tersebut menjadi bukti bahwa proses menjadi pengusaha tidak selalu dimulai dari kondisi yang ideal. Terkadang ia dimulai dari uang jajan, ruang yang sempit, tempat berjualan yang berpindah-pindah, dan keputusan-keputusan sulit yang harus diambil sendiri.

Bagi Nurun, pengalaman di USK kemudian menjadi salah satu bagian penting dalam perjalanan tersebut. Ia tidak hanya membawa pulang gelar sebagai Sarjana Teknik Industri pada 2025, tetapi juga membawa pengalaman, pengetahuan, relasi, dan keberanian untuk terus mencoba.

Menurutnya, kalau ada satu hal yang ia pelajari dari perjalanan bisnisnya ini maka itu adalah semangat dan keyakinannya untuk terus mencoba. Sebab ia merasa  dirinya tidak akan pernah benar-benar tahu sesuatu bisa berhasil atau tidak sebelum mencobanya.

“Saya sudah beberapa kali memulai dari awal, dan ternyata setiap pengalaman itu membawa saya ke tempat yang berbeda. Jadi sekarang saya lebih percaya bahwa yang penting adalah terus belajar, berani mencoba, dan jangan takut untuk memulai lagi,” pungkasnya.