Rektor Universitas Syiah Kuala (USK), Prof. Mirza Tabrani, S.E., M.B.A., D.B.A, memaparkan kiprah Satgas USK dalam penanganan bencana Siklon Senyar Aceh pada Diskusi Publik bertema “Membedah Progres Rehabilitasi dan Rekonstruksi Aceh Pascabencana Hidrometeorologi dan Rencana Induk Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pascabencana Sumatera 2026–2028”.
Kegiatan ini digelar Posko Wilayah Satgas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (PRR) Aceh di Ruang Event Hall Gedung AAC Dayan Dawood, Banda Aceh, Jumat (24/7/2026).
Dalam paparannya, Rektor menekankan kontribusi USK di bidang penyediaan air bersih, dukungan pendidikan, dan layanan kesehatan.
“Kami melakukan pengeboran dan sterilisasi air dengan alat yang dirancang mahasiswa.
Alat tersebut sudah ditempatkan di sejumlah lokasi terdampak, sehingga air yang semula keruh dapat kembali jernih dan dimanfaatkan masyarakat untuk kebutuhan sehari-hari seperti mandi dan wudu,” ujarnya.
Ia juga menyoroti dukungan pendidikan bagi civitas akademika terdampak.
Katanya, USK berupaya membantu mahasiswa dan keluarga terdampak melalui pemberian lebih dari 2.300 beasiswa yang disalurkan lewat Rumah Amal USK.
“Dengan data penerima yang tercatat secara by name, by address,” kata Mirza.
Selain beasiswa, melalui Rumah Amal USK juga telah disalurkan fasilitas sarana air bersih siap minum di delapan lokasi yang tersebar di tiga kabupaten, yaitu Aceh Timur, Aceh Tengah, dan Pidie Jaya.
Selain itu, USK mengirimkan tenaga medis secara reguler ke desa-desa dan lokasi pengungsian. “Kami secara reguler mengirimkan dokter ke desa-desa dan lokasi pengungsian.
Penugasan dilakukan bergiliran, ada yang dua minggu hingga satu bulan, dan setiap keberangkatan selalu dibarengi dengan obat-obatan untuk mendukung pelayanan kesehatan masyarakat,” jelasnya.
Menanggapi paparan tersebut, Kaposkowil Satgas PRR Aceh, Safrizal Z.A mengapresiasi program dokter turun langsung ke desa-desa dan lokasi pengungsian yang dijalankan USK.
“Ada banyak aktivitas dari Universitas Syiah Kuala, termasuk yang saya kawal langsung, masalah dokter turun ke desa.
Kalau biasanya masyarakat datang ke pos-pos pelayanan kesehatan, ini para petugas layanan atau dokter-dokter turun ke lokasi-lokasi pengungsian atau rumah-rumah penduduk,” ujarnya.