Universitas Syiah Kuala

Tim Comdev WCU USK Tingkatkan Literasi Kesehatan Menopause bagi Perempuan Aceh

Tim Pengabdian Masyarakat Community Development World Class University (Comdev WCU) Universitas Syiah Kuala (USK) menggelar rangkaian kegiatan bertajuk “Melewati Masa Transisi: Edukasi Menopause untuk Kesehatan dan Kesejahteraan Perempuan”pada21 Mei hingga 10 Juni 2026di Meunasah Moncut, Kecamatan Lhoknga, Kabupaten Aceh Besar, serta di Lampaseh, Kota Banda Aceh.

Kegiatan ini bertujuan meningkatkan literasi kesehatan perempuan mengenai masa transisi menopause sekaligus memperkuat kapasitas kader Posyandu dan PKK sebagai ujung tombak edukasi kesehatan di masyarakat.

Program tersebut dilaksanakan di dua wilayah dengan karakteristik masyarakat yang berbeda, yakni kawasan sub-urban di Lhoknga dan kawasan urban di Lampaseh. Pendekatan ini dilakukan agar edukasi kesehatan dapat menjangkau lebih banyak perempuan dengan latar belakang sosial yang beragam, sehingga manfaat program dapat dirasakan secara lebih luas.

Dalam pelaksanaannya, kegiatan menghadirkan pelatihan intensif bagi kader PKK dan Posyandu yang didukung oleh dosen Departemen Farmasi Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) USK, Bagian Gizi serta Bagian Obstetri dan Ginekologi Fakultas Kedokteran USK. Program ini juga melibatkan lima mahasiswa Departemen Farmasi sebagai bagian dari implementasi pembelajaran berbasis pengabdian kepada masyarakat.

Materi mengenai kesehatan reproduksi perempuan dan fase menopause disampaikan oleh dr. Ika Arfita, Sp.OG. Para peserta memperoleh pemahaman mengenai perubahan fisik dan psikologis selama masa transisi menopause, pentingnya menjaga pola hidup sehat, serta langkah-langkah pencegahan berbagai risiko kesehatan yang dapat muncul pada fase tersebut.

Salah seorang anggota Tim Pengabdian Masyarakat Comdev WCU USK, Dr. Meutia Faradilla, Apt., menjelaskan bahwa pelaksanaan program ini didasarkan pada kondisi demografi perempuan di Aceh yang menunjukkan pentingnya peningkatan literasi mengenai kesehatan reproduksi, khususnya menjelang masa menopause.

“Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Aceh tahun 2025, sebanyak 53,83 persen perempuan di Aceh berada pada usia subur, dan 33,41 persen diantaranya telah berusia di atas 40 tahun sehingga mulai memasuki fase perimenopause. Sementara itu, tren peningkatan angka harapan hidup perempuan Indonesia dari sekitar 40 tahun pada 1950-an menjadi sekitar 70 tahun pada 2020 menunjukkan bahwa perempuan akan menjalani masa hidup yang lebih panjang dalam fase menopause,” ujar Meutia.

Menurutnya, kondisi tersebut mendorong tim pengabdian USK menghadirkan edukasi kesehatan reproduksi yang lebih komprehensif kepada masyarakat, terutama bagi perempuan yang mulai memasuki masa transisi menopause.

“Karena itu kami memilih menjangkau wilayah sub-urban seperti Lhoknga dan kawasan urban seperti Lampaseh agar edukasi dan layanan kesehatan dapat menjangkau lebih banyak perempuan dengan karakteristik yang beragam,” katanya.

Selain memberikan edukasi secara langsung kepada kelompok perempuan dewasa, program ini juga bertujuan meningkatkan kapasitas kader Posyandu melalui pembekalan materi, sekaligus melakukan alih teknologi dengan menyediakan modul praktis dan video edukasi mengenai menopause yang dapat dimanfaatkan sebagai media penyuluhan di tingkat gampong.

Dalam pelaksanaannya, Tim Comdev WCU USK bermitra dengan Yayasan Perempuan dan Anak Negeri (YPANBA), organisasi nirlaba yang aktif melakukan pendampingan masyarakat di berbagai gampong di Aceh. Kolaborasi ini diharapkan dapat memperluas jangkauan edukasi sekaligus menjamin keberlanjutan program di tengah masyarakat.

Meutia mengatakan, kolaborasi pengabdian antara FMIPA dan Fakultas Kedokteran USK ini juga berkontribusi terhadap pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya Tujuan 3 tentang Kehidupan Sehat dan Sejahtera serta Tujuan 5 tentang Kesetaraan Gender. Melalui peningkatan literasi kesehatan reproduksi, perempuan diharapkan mampu menjalani masa transisi menopause secara sehat, produktif, dan berkualitas.

Ia menambahkan, pelatihan kader yang telah dilaksanakan di Meunasah Moncut dan Lampaseh menjadi langkah awal untuk memperluas edukasi kepada masyarakat. Para kader diharapkan mampu menjadi agen perubahan yang menyebarluaskan informasi kesehatan reproduksi kepada perempuan di lingkungan masing-masing.

“Melalui penyebaran informasi yang lebih merata, diharapkan stigma negatif terhadap proses penuaan dapat berkurang, perempuan semakin berdaya dalam mengambil keputusan terkait kesehatan tubuhnya, serta kesetaraan gender semakin kuat melalui akses informasi yang setara,” pungkas Meutia.