Universitas Syiah Kuala

USK Bahas SDGs 9, 10, dan 11 untuk Dukung Infrastruktur Resilien serta Tata Kelola Kawasan Berkelanjutan

Universitas Syiah Kuala (USK) kembali menunjukkan komitmennya dalam mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs) melalui pelaksanaan Focus Group Discussion (FGD) SDGs 9, 10, dan 11 dengan tema “Akselerasi Infrastruktur Resilien dan Inovasi Inklusif: Menuju Tata Kelola Kawasan Berkelanjutan yang Adaptif Bencana”.

Kegiatan ini dilaksanakan pada tanggal 8 Mei 2026 di Hotel Ayani Kota Banda Aceh, dengan melibatkan unsur akademisi dari perguruan tinggi swasta dan USK, dinas terkait, dan berbagai pemangku kepentingan lainnya yang memiliki perhatian terhadap pembangunan berkelanjutan.

FGD ini menjadi wadah strategis untuk memperkuat kolaborasi lintas sektor dalam mendorong pembangunan infrastruktur yang tangguh, inovasi yang inklusif, pengurangan kesenjangan sosial, serta pengembangan kawasan dan permukiman yang berkelanjutan dan adaptif terhadap risiko bencana.

Acara secara resmi dibuka oleh Prof. Dr. Ir. Agussabti, M.Si., IPU selaku Wakil Rektor Bidang Akademik USK. Dalam sambutannya, beliau menegaskan pentingnya peran perguruan tinggi dalam mendukung implementasi Sustainable Development Goals melalui penguatan riset, inovasi, pendidikan, dan kolaborasi multipihak untuk menjawab tantangan pembangunan berkelanjutan di masa depan.

Dalam kegiatan ini, hadir sebagai pembicara eksternal, Dr.-Ing. Ir. Ova Candra Dewi, S.T., M.Sc., GP, IPU dari Universitas Indonesia serta pembicara internal dari USK, Prof. Dr. Heru Fahlevi, S.E., M.Sc., Ak., CA. Kedua narasumber menyampaikan berbagai perspektif strategis terkait pembangunan infrastruktur resilien, inovasi inklusif, tata kelola kawasan berkelanjutan, serta penguatan kapasitas daerah dalam menghadapi risiko bencana.

Dalam sambutannya, pimpinan USK menyampaikan bahwa perguruan tinggi memiliki peran penting sebagai pusat ilmu pengetahuan, riset, dan inovasi dalam mendukung agenda pembangunan berkelanjutan. Melalui kegiatan FGD ini, USK ingin menghadirkan ruang diskusi yang produktif untuk menghasilkan gagasan dan rekomendasi kebijakan yang dapat diimplementasikan secara nyata.

“Pembangunan berkelanjutan tidak hanya berbicara tentang pertumbuhan ekonomi, tetapi juga bagaimana memastikan seluruh masyarakat mendapatkan akses yang adil terhadap infrastruktur, inovasi, dan lingkungan hidup yang aman serta berkelanjutan. Karena itu, sinergi antara akademisi, pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat menjadi sangat penting,” ujar salah satu narasumber dalam kegiatan tersebut.

Pada pembahasan SDGs 9 (Industry, Innovation and Infrastructure), peserta FGD menyoroti pentingnya penguatan infrastruktur resilien yang mampu mendukung pertumbuhan ekonomi sekaligus tahan terhadap berbagai tantangan, termasuk perubahan iklim dan bencana alam. Selain itu, inovasi berbasis riset dan teknologi dinilai menjadi kunci dalam meningkatkan daya saing daerah dan mempercepat transformasi pembangunan.

Diskusi juga menekankan perlunya penguatan ekosistem inovasi yang melibatkan perguruan tinggi, industri, dan pemerintah secara terpadu. USK sebagai institusi pendidikan tinggi didorong untuk terus meningkatkan kontribusi riset terapan yang mampu memberikan solusi nyata bagi masyarakat dan pembangunan daerah.

Sementara itu, pada pembahasan SDGs 10 (Reduced Inequalities), peserta FGD membahas pentingnya menciptakan pembangunan yang inklusif dan berkeadilan. Berbagai tantangan terkait kesenjangan sosial, ekonomi, akses pendidikan, dan pelayanan publik menjadi perhatian utama dalam diskusi.

Peserta menilai bahwa pembangunan yang berkelanjutan harus mampu menjangkau seluruh lapisan masyarakat tanpa terkecuali, termasuk kelompok rentan dan masyarakat yang tinggal di wilayah rawan bencana. Oleh sebab itu, kebijakan pembangunan harus dirancang dengan pendekatan partisipatif dan inklusif.

Adapun pada pembahasan SDGs 11 (Sustainable Cities and Communities), diskusi difokuskan pada pengembangan tata kelola kawasan dan permukiman yang aman, tangguh, dan berkelanjutan. Mengingat Aceh merupakan wilayah yang memiliki potensi risiko bencana yang cukup tinggi, maka pendekatan pembangunan adaptif bencana menjadi sangat relevan.

Peserta FGD menekankan pentingnya integrasi aspek mitigasi dan adaptasi bencana dalam perencanaan kawasan, pembangunan infrastruktur, serta pengelolaan lingkungan perkotaan dan pedesaan. Selain itu, pemanfaatan teknologi dan inovasi digital juga dinilai dapat mendukung sistem tata kelola kawasan yang lebih efektif dan responsif.

Kegiatan FGD ini berlangsung secara interaktif dengan berbagai sesi diskusi dan pemaparan gagasan dari para peserta. Berbagai rekomendasi strategis yang dihasilkan diharapkan dapat menjadi masukan penting bagi penguatan kebijakan pembangunan berkelanjutan di tingkat lokal maupun nasional.

Melalui pelaksanaan FGD SDGs 9, 10, dan 11 ini, USK kembali menegaskan perannya sebagai institusi pendidikan tinggi yang aktif mendukung implementasi SDGs melalui pendidikan, penelitian, pengabdian kepada masyarakat, dan kolaborasi multipihak.

Kegiatan ini juga diharapkan dapat memperkuat kesadaran bersama bahwa pembangunan infrastruktur resilien, inovasi inklusif, pengurangan kesenjangan, dan pengembangan kawasan berkelanjutan merupakan pondasi penting dalam mewujudkan masa depan yang lebih tangguh, adil, dan berkelanjutan bagi masyarakat.

Pelaksanaan FGD ini  merupakan salah satu  Program Equity USK Tahun Anggaran 2025–2026 yang didukung oleh Kemendikti Saintek dan LPDP sebagai bagian dari komitmen universitas dalam memperkuat implementasi program pembangunan berkelanjutan, peningkatan kapasitas kelembagaan, serta penguatan kolaborasi strategis dalam mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs).

Dengan semangat kolaborasi dan inovasi, USK terus berkomitmen menjadi bagian dari solusi dalam menghadapi berbagai tantangan pembangunan global, termasuk isu perubahan iklim, ketimpangan sosial, dan risiko bencana yang semakin kompleks.