Sebanyak 50 mahasiswa Universitas Syiah Kuala (USK) melalui Program Mahasiswa Berdampak hadir memulihkan kebun, fasilitas produksi, sekaligus memperkuat inovasi produk moringa (daun kelor) berbasis riset di Gampong Rambong Payong, Kecamatan Peusangan Siblah Krueng, Kabupaten Bireuen.
Sentra herba moringa (daun kelor) di desa ini yang sempat lumpuh akibat banjir siklon Senyar akhir November lalu, kini kembali bangkit. Sejak 2022, Rambong Payong telah memproduksi herba kering moringa celup bermerek Chie Jebs dengan kandungan moringa 100 persen. Produk ini dikelola oleh Badan Usaha Milik Gampong (BUMG) dan menjadi salah satu sumber penghasilan masyarakat.
Namun, bencana banjir merusak kebun moringa (kelor) dan peralatan produksinya, sehingga aktivitas usaha terhenti. Mahasiswa dari Departemen Teknik Kimia Fakultas Teknik, Pendidikan Kimia FKIP, Teknik Pertanian Fakultas Pertanian, serta Manajemen FEB USK melakukan pendampingan terpadu di desa ini.
Mereka membersihkan dan menata ulang kebun, melakukan peremajaan tanaman, memperbaiki ruang produksi, serta mendampingi penguatan manajemen usaha. Tidak hanya menghidupkan kembali varian original, mahasiswa juga mengimplementasikan hasil riset dosen dengan menghadirkan tiga varian baru: moringa pandan, moringa rosella, dan moringa jahe.
Kini, BUMG Rambong Payong memiliki empat varian herba moringa celup siap saji yang lebih variatif dan bernilai tambah.Pengembangan ini merupakan kelanjutan riset yang dimulai sejak 2022 melalui Program Penelitian Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM), saat sepuluh mahasiswa Pendidikan Kimia USK ditempatkan di Rambong Payong selama satu bulan.
Sepulang dari kegiatan tersebut, riset dilanjutkan untuk mengkaji kandungan antioksidan, daya simpan, serta potensi pengembangan varian baru berbasis bahan alami lokal.
Program Mahasiswa Berdampak ini dibimbing oleh Dr. Dra. Sulastri MSi, Prof. Dr. Ichwana MSi, Prof. Dr. Nasrul ST, MT, dan Dr. Teuku Meldi Kesuma SE, MM.
Pendampingan dilakukan secara terstruktur agar pemulihan usaha tidak hanya bersifat sementara, tetapi berkelanjutan. Ketua tim pembimbing, Dr. Sulastri menegaskan bahwa kolaborasi kampus dan masyarakat adalah kunci penguatan ekonomi lokal berbasis riset.
“Potensi gampong Aceh akan muncul ke tingkat nasional, bahkan global, melalui kerja sama yang baik antara peneliti dan pengabdi dari USK dengan Masyarakat,” ujarnya
Menurutnya, ketika riset tidak berhenti di laboratorium, tetapi hadir menjawab kebutuhan nyata warga, di situlah dampak sejatinya tercipta. Kini, aktivitas produksi herba moringa Chie Jebs kembali berjalan.
Inovasi varian baru memberi harapan bahwa Rambong Payong tidak hanya bangkit dari bencana, tetapi juga tumbuh menjadi sentra produk herbal berbasis riset yang berdaya saing lebih luas.