Meski banjir besar telah berlalu sekitar 80 hari, duka dan dampak kesehatan di Kabupaten Aceh Tamiang belum sepenuhnya pulih. Merespons kondisi tersebut, Asosiasi Pendidikan Tinggi Farmasi Indonesia (APTFI) berkolaborasi dengan Ikatan Apoteker Indonesia (IAI) melalui unit Apoteker Tanggap Bencana (ATB) menggelar aksi kemanusiaan terpadu selama dua hari, 14–15 Februari 2026.
Aksi ini melibatkan sinergi besar tenaga medis lintas profesi, mulai dari mahasiswa Profesi Apoteker Universitas Syiah Kuala (USK), Universitas Muhammadiyah Purworejo, dan Universitas Negeri Gorontalo, hingga tim medis dari IDI Bireuen, BSMI Provinsi Aceh, serta Alumni Kedokteran Unimal.
Empat Desa, 700 Warga, dan Berbagai Keluhan Medis
Kegiatan dipusatkan di empat titik lokasi terdampak parah: Desa Suka Jadi, Desa Dalam, Desa Kota Lintang, dan Desa Benua Raja. Sekitar 700 warga antusias mendatangi posko untuk mendapatkan layanan pengobatan gratis, pendampingan psikososial (trauma healing), serta bantuan logistik.
Kondisi lapangan dilaporkan masih memprihatinkan. Endapan debu sisa banjir memicu tingginya kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA). Selain itu, tim medis menangani banyak keluhan penyakit kulit, diare, hipertensi akibat stres, hingga nyeri sendi. Di sudut lain, anak-anak penyintas banjir mendapatkan pendampingan trauma healing untuk mengikis trauma psikologis pascabencana.
Bantuan Teknologi dan Logistik Berkelanjutan
Selain layanan kesehatan, tim juga menyalurkan bantuan taktis yang bersentuhan langsung dengan kebutuhan harian, seperti alat penyaring air bersih (filter air), kompor gas portabel, paket sembako, serta peralatan sekolah.
Penanggung jawab kegiatan, apt. Tedy Kurniawan Bakri, M.Farm., menegaskan bahwa misi ini adalah instruksi langsung dari Pengurus Pusat APTFI dan IAI.
“Bencana ini belum benar-benar selesai. Masyarakat masih menghadapi lingkungan yang rusak dan akses air bersih yang terbatas. Kami hadir untuk memastikan mereka tidak berjuang sendiri dalam masa pemulihan ini,” tegas Tedy.
Hal senada disampaikan Koordinator Kegiatan, apt. Annas, S.Farm. Ia menyebutkan bahwa IAI dan APTFI berkomitmen untuk terus mengawal masyarakat Aceh sejak awal musibah hingga masa rehabilitasi.
“Kami ingin memastikan profesi Apoteker hadir secara nyata di tengah masyarakat pada masa-masa sulit,” ujarnya.
Apresiasi Warga di Tengah Keterbatasan
Ketua Dusun Desa Benua Raja, Budi Hariyanto, menyampaikan rasa terima kasihnya atas kepedulian para dokter, apoteker, dan mahasiswa.
“Warga kami masih kesulitan akses kesehatan dan kebutuhan pokok pascabanjir. Manfaat kegiatan ini sangat dirasakan langsung oleh masyarakat kami,” tuturnya.
Aksi kolaboratif ini menjadi bukti bahwa pemulihan pascabencana membutuhkan nafas panjang dan kerja sama lintas sektor. Melalui kegiatan ini, APTFI dan IAI tidak hanya memberikan obat, tetapi juga harapan bagi warga Aceh Tamiang untuk kembali bangkit.