Memperingati Hari Kusta Sedunia yang jatuh pada 25 Januari, Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) Dermatologi, Venereologi, dan Estetika Fakultas Kedokteran Universitas Syiah Kuala (FK USK) menggelar aksi edukasi masif di Stadion Harapan Bangsa, Banda Aceh, Minggu (25/1).
Mengangkat tema internasional “Kusta Dapat Disembuhkan, Tantangan Sebenarnya Adalah Stigma”, kegiatan ini bertujuan memutus rantai penularan sekaligus menghapus pengucilan sosial terhadap penderita.
Aksi yang berkolaborasi dengan Ikatan Dokter Indonesia (IDI) dan Rumah Sakit Umum Daerah dr. Zainoel Abidin (RSUDZA) ini diisi dengan berbagai kegiatan, mulai dari penyuluhan kesehatan hingga pemeriksaan kulit gratis bagi masyarakat yang sedang berolahraga di kawasan stadion.
Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin RSUDZA sekaligus dosen FK USK, dr. Sulamsih Sri Budini, menekankan bahwa edukasi mengenai deteksi dini merupakan kunci utama dalam pemberantasan kusta di Aceh. Menurutnya, pemahaman mengenai faktor penyebab dan upaya pengobatan harus terus didorong agar masyarakat tidak lagi merasa takut atau malu untuk memeriksakan diri.
“Hal terpenting yang ingin kami sampaikan adalah penghapusan stigma. Di Aceh, stigma terhadap penderita kusta masih cukup kuat. Di beberapa daerah, pasien kusta bahkan masih dikucilkan oleh penduduk sekitar,” jelas dr. Sulamsih.
Kondisi kusta di Provinsi Aceh sendiri saat ini memang masih menjadi perhatian serius bagi tenaga medis. Meski penderita umumnya berasal dari kelompok usia dewasa, namun dr. Sulamsih mengungkapkan bahwa temuan kasus pada anak-anak juga masih kerap dijumpai.
Hal ini menunjukkan bahwa penularan di tingkat keluarga atau lingkungan terdekat masih terjadi, sehingga penghapusan stigma menjadi krusial agar penderita mau terbuka dan mendapatkan akses pengobatan yang tepat.
Secara medis, kusta atau lepra adalah penyakit infeksi bakteri kronis yang disebabkan oleh Mycobacterium leprae. Bakteri ini menyerang jaringan kulit, saraf tepi, hingga saluran pernapasan. Tanpa pengobatan yang cepat dan tepat, kusta dapat menyebabkan kerusakan permanen, namun dengan regimen pengobatan yang tersedia saat ini, penderita dapat sembuh sepenuhnya tanpa menularkan kepada orang lain.
“Melalui momen ini, kami ingin meyakinkan masyarakat bahwa kusta bukan sekadar penyakit menular biasa, melainkan penyakit yang bisa diobati hingga sembuh total,” bebernya.
Melalui kegiatan ini, FK USK berharap masyarakat Aceh dapat lebih inklusif terhadap penyintas kusta. Dukungan sosial dianggap sama pentingnya dengan pengobatan medis agar penderita dapat kembali menjalani kehidupan bermasyarakat secara normal tanpa rasa takut akan pengucilan.