Lembaga Rumah Amal Universitas Syiah Kuala (USK) bersinergi dengan relawan Ikatan Dai Indonesia (IKADI) Wilayah Aceh, melaksanakan aksi kemanusiaan berupa pembersihan dan pemulihan lingkungan pascabanjir di Kecamatan Peusangan, Kabupaten Bireuen. Aksi ini difokuskan untuk membantu warga bangkit dari dampak bencana yang melanda wilayah tersebut.
Kegiatan yang berpusat di Gampong Raya Tambo dan Gampong Raya Dagang ini berlangsung secara intensif selama enam pekan, mulai 12 Desember 2025 hingga 18 Januari 2026.
Para relawan terjun langsung setiap akhir pekan (Jumat hingga Minggu) untuk membersihkan rumah-rumah warga, terutama milik guru ngaji, serta fasilitas umum seperti masjid yang sebelumnya tertimbun lumpur dan sisa material banjir.
Koordinator kegiatan, Dr. Nur Pramayudi, menjelaskan bahwa aksi ini merupakan upaya nyata untuk mempercepat pemulihan pascabencana agar masyarakat dapat kembali beraktivitas secara normal.
“Kami turun langsung ke lokasi terdampak untuk memastikan rumah warga dan fasilitas ibadah kembali layak digunakan. Fokus kami adalah memastikan lingkungan kembali bersih dan sehat,” ujar Nur Pramayudi.
Pelaksanaan aksi ini didukung penuh oleh pendanaan operasional dari Rumah Amal USK. Sinergi ini mencerminkan komitmen kolaboratif lembaga pendidikan dan organisasi dakwah dalam merespons dampak bencana serta memperkuat aksi kemanusiaan di Aceh.
Sebagai Wakil Ketua IKADI Aceh, Nur Pramayudi menambahkan bahwa aksi bersih-bersih ini ditargetkan terus berlanjut hingga menjelang bulan suci Ramadan. “Tujuannya agar masyarakat tidak lagi berada di posko pengungsian dan sudah bisa menempati rumah masing-masing dengan nyaman saat menjalankan ibadah puasa nanti,” tambahnya.
Selain pemulihan fisik, ia menyampaikan terima kasih kepada para donatur Rumah Amal USK atas kontribusi yang telah diberikan. Partisipasi aktif masyarakat setempat juga menjadi energi tambahan bagi para relawan di lapangan. Kegiatan ini diharapkan tidak hanya memulihkan infrastruktur, tetapi juga memperkuat nilai gotong royong dan solidaritas sosial di tengah kondisi sulit.
“Semangat kebersamaan ini menjadi motivasi bagi relawan untuk terus mendampingi masyarakat, tidak hanya di Bireuen, tetapi juga dalam aksi kemanusiaan serupa di wilayah lain di Aceh,” pungkasnya.