Universitas Syiah Kuala (USK) mengambil langkah khusus terkait pembayaran Uang Kuliah Tunggal (UKT) bagi mahasiswa yang terdampak bencana hidrometeorologi di Aceh. Rektor USK Prof. Dr. Ir. Marwan menyatakan, mahasiswa dengan kondisi terdampak berat bahkan dibebaskan UKT hingga selesai studi.
“Mahasiswa yang keluarganya menjadi korban langsung, seperti orang tua meninggal dunia akibat bencana, akan kita bebaskan UKT sampai tamat. Saat ini sudah ada satu mahasiswa yang memenuhi kriteria tersebut dan telah kami tetapkan,” kata Marwan dalam konferensi pers yang digelar di Biro Rektorat USK, Jum’at (26/12).
Berdasarkan data Satgas USK untuk Respons Senyar Aceh periode 28 November–26 Desember 2025, sebanyak 3.878 mahasiswa dan 51 dosen serta tenaga kependidikan tercatat terdampak. Sebaran mahasiswa terdampak paling banyak berada di wilayah pantai utara dan timur Aceh, mulai dari Kabupaten Pidie, Pidie Jaya, hingga Aceh Tamiang.
Prof Marwan menjelaskan, selain pembebasan UKT penuh bagi mahasiswa dengan dampak terberat, USK juga tengah menyiapkan skema keringanan UKT bertingkat bagi mahasiswa terdampak lainnya. Skema tersebut masih dalam tahap verifikasi dan klasifikasi data.
“Bisa saja satu semester, dua semester, atau bentuk keringanan persentase, misalnya 25 persen atau 50 persen, tergantung tingkat dampaknya. Ini sedang kami verifikasi agar kebijakannya adil,” ujarnya.
Selain kebijakan UKT, USK juga menyesuaikan aktivitas akademik. Selama masa tanggap darurat yang ditetapkan pemerintah, USK meliburkan perkuliahan dan menunda pelaksanaan ujian.
“Jadi sebenarnya sekarang ini masa-masa ujian. Namun kita berikan kelonggaran ya bagi pelaksanaan ujian. Jadi kita harapkan dosen bisa memberikan berbagai metode berdasarkan tugas atau bentuk-bentuk yang lain yang mungkin bisa dilaksanakan sesuai kesepakatan dengan mahasiswa. Terutama yang dari kawasan terdampak ya,” jelasnya.
“Dan masa registrasi untuk semester berikutnya juga kita geser ya. Biasanya nanti pada pertengahan Januari kita sudah mulai kuliah. Ini mungkin nanti baru Februari ya untuk bisa kita mulai semester berikutnya,” sambungnya.
Lebih lanjut, bagi mahasiswa terdampak yang mengalami kesulitan biaya hidup, USK telah berkoordinasi dengan kementerian terkait untuk penyaluran bantuan biaya hidup selama tiga bulan.
“Pada tahap pertama, sekitar 1.100 lebih mahasiswa telah diverifikasi dan diusulkan menerima bantuan, sementara pendataan tahap kedua terus berjalan seiring membaiknya akses komunikasi di wilayah terdampak,” ujar Prof Marwan.
Prof Marwan menjelakan, Satgas USK untuk Respons Senyar Aceh yang diketuai oleh Kepala UPT. Mitigasi Bencana/TDMRC USK, Prof. Dr. Syamsidik, ST., M.Sc telah mengoordinasikan bantuan kesehatan, logistik, serta respons kemanusiaan di 10 kabupaten/kota di Aceh sejak dua hari pascabencana.
Total 480 tenaga kesehatan telah dikerahkan, terdiri dari dokter spesialis, dokter umum, perawat, PPDS, dokter internship, apoteker, serta relawan lainnya. Selain itu, lebih dari 1.100 relawan umum dan mahasiswa terlibat dalam berbagai kegiatan lapangan.
USK juga menggalang donasi melalui Rumah Amal Masjid Jamik USK dengan total dana terkumpul mencapai Rp2,27 miliar, dan sekitar Rp1,38 miliar telah disalurkan, termasuk untuk membantu mahasiswa terdampak.
“Kami berkomitmen mendampingi mahasiswa dan masyarakat Aceh, bukan hanya di masa tanggap darurat, tapi juga pada fase pemulihan dan rehabilitasi ke depan,” tutup Prof Marwan.