Universitas Syiah Kuala (USK) melalui Tim Safe Communities Safe Schools (SCSS) Aceh melaksanakan Workshop Pembelajaran Sosial Emosional (Social Emotional Learning/SEL) dalam kerangka Program SEULANGA (Social-Emotional Understanding and Learning for Adult-Children Wellbeing Advancement) bersama berbagai lembaga lintas instansi di Hotel Kryad Muraya, Kota Banda Aceh, Selasa (14/10/2025).
Kegiatan ini bertujuan memperkuat kesejahteraan emosional anak dan remaja melalui kolaborasi antara lembaga pendidikan, pemerintah, dan masyarakat, dengan melibatkan berbagai instansi seperti Kemenag, Dinas Pendidikan, Dinas Sosial, Bappeda, BNN, DP3P2KB, MPD, serta Program PPG FKIP USK dan Forum Anak Kota Banda Aceh.
Principal Investigator SCSS USK Aceh, Dr. Haiyun Nisa, S.Psi., M.Psi., Psikolog, menjelaskan bahwa model SCSS yang diimplementasikan melalui Program SEULANGA berfokus pada penguatan jejaring dan sinergi antar instansi dalam upaya meningkatkan kesejahteraan sosial emosional anak dan remaja di Aceh.
“Remaja adalah aset bangsa yang harus dijaga kesejahteraan emosinya. Sinergi antar lembaga menjadi langkah penting untuk memastikan dukungan berkelanjutan terhadap perkembangan sosial emosional mereka,” ujar Dr. Haiyun.
Lebih lanjut, Dr. Haiyun menegaskan pentingnya penerapan Pembelajaran Sosial Emosional (SEL) di sekolah sebagai pondasi pembentukan karakter remaja yang tangguh, empatik, dan adaptif. Melalui kolaborasi antara pemerintah, lembaga pendidikan, dan keluarga, USK berharap terwujud generasi muda Banda Aceh yang kuat secara emosional dan siap menghadapi berbagai tantangan masa depan.
Dalam kesempatan tersebut, Psikolog Ediburga Wulan Saptandari, S.Psi., M.Psi., Ph.D., turut menekankan bahwa Pembelajaran Sosial Emosional merupakan investasi sosial jangka panjang yang sangat penting bagi keberlanjutan bangsa.
“Bangsa yang sehat emosinya akan kuat moralnya. Program SEL adalah gerakan strategis untuk membangun generasi yang tangguh, karena kesejahteraan emosional anak bukan hanya tanggung jawab sekolah, tetapi seluruh elemen masyarakat,” ungkapnya.
Workshop ini juga menghasilkan sejumlah komitmen kolaboratif antarinstansi. Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Banda Aceh menyatakan dukungan agar penerapan SEL dapat diintegrasikan secara konsisten ke dalam proses pembelajaran di sekolah.
Sementara itu, Majelis Pendidikan Daerah (MPD) Banda Aceh menekankan pentingnya pelibatan keluarga dan komite sekolah dalam memperkuat kolaborasi tiga pilar utama pendidikan — keluarga, sekolah, dan komunitas.
Sebagai bagian dari kontribusi akademik, perwakilan Program Pendidikan Profesi Guru (PPG) FKIP USK menyampaikan bahwa materi Pembelajaran Sosial Emosional telah diintegrasikan ke dalam kurikulum calon guru sejak semester awal. Hal ini menunjukkan komitmen nyata USK dalam menyiapkan tenaga pendidik yang memiliki kompetensi sosial emosional yang kuat.