Universitas Syiah Kuala (USK) terus memperkuat komitmennya dalam menjaga dan melestarikan warisan budaya takbenda Aceh. Melalui berbagai kegiatan penelitian, dokumentasi, dan pengabdian kepada masyarakat, USK menjadi salah satu lembaga pendidikan tinggi yang aktif dalam upaya pelestarian kearifan lokal, tradisi, dan bahasa daerah.
Melalui Fakultas Ilmu Budaya, Pusat Penelitian dan Pengembangan Seni, serta UPT Bahasa, USK menjalankan berbagai program yang berfokus pada pendokumentasian cerita rakyat, hikayat, bahasa, serta tradisi lisan masyarakat Aceh. Kegiatan ini tidak hanya bertujuan untuk menyimpan pengetahuan tradisional, tetapi juga untuk menghidupkannya kembali melalui pendidikan dan publikasi. Para peneliti USK bekerja sama dengan komunitas lokal di berbagai daerah untuk merekam sastra lisan, upacara adat, dan kearifan lokal yang berkaitan dengan lingkungan serta ketangguhan masyarakat dalam menghadapi bencana.
Salah satu contoh penting adalah upaya mendokumentasikan hikayat Aceh, yaitu karya sastra lisan yang sarat nilai moral dan sejarah. Selain itu, USK juga meneliti berbagai bentuk kearifan lokal terkait mitigasi bencana, yang menjadi warisan pengetahuan berharga pasca-tsunami Aceh. Dengan cara ini, universitas tidak hanya melestarikan budaya, tetapi juga memberikan kontribusi nyata terhadap pembangunan berkelanjutan dan ketahanan sosial masyarakat.
Peran mahasiswa juga sangat penting dalam menjaga keberlanjutan budaya. Organisasi seperti Putroe Phang dan Teater Nol menjadi garda depan dalam memperkenalkan kembali seni tradisional melalui tarian, musik, dan pertunjukan teater. Melalui kegiatan mereka, nilai-nilai budaya Aceh dihidupkan dalam bentuk ekspresi kreatif yang mudah diterima oleh generasi muda.
Upaya pelestarian yang dilakukan USK ini mencerminkan sinergi antara akademisi, seniman, dan masyarakat dalam menjaga identitas budaya Aceh. Lebih dari sekadar dokumentasi, kegiatan ini merupakan bentuk tanggung jawab moral untuk memastikan bahwa cerita rakyat, bahasa, dan kearifan lokal tetap hidup dan diwariskan kepada generasi berikutnya. Dengan demikian, USK menegaskan dirinya sebagai penjaga warisan budaya yang tak ternilai bagi Aceh dan Indonesia.