Universitas Syiah Kuala

USK, Ruang Terbuka bagi Ilmu dan Budaya: Kisah Masjid Jamik, Lapangan, Tugu, dan Gedung AAC Dayan Dawood

Pagi di kawasan Darussalam selalu dimulai dengan pemandangan yang khas. Kabut tipis menyelimuti jalan utama yang membelah kampus Universitas Syiah Kuala (USK), sementara deretan pohon trembesi yang rimbun meneduhkan langkah para mahasiswa, dosen, dan warga sekitar yang beraktivitas di dalam kampus. Di kejauhan, kubah besar Masjid Jamik Darussalam berdiri megah, memantulkan cahaya keemasan matahari pagi.

Suasana ini menggambarkan sesuatu yang lebih dari sekadar kehidupan akademik. Di balik kesibukan kampus terbesar di Aceh ini, ada denyut kebersamaan yang terasa hidup — ruang publik yang tidak hanya dimiliki oleh civitas akademika, tetapi juga oleh masyarakat luas. Melalui Masjid Jamik Darussalam, Lapangan Darussalam, Tugu Darussalam, dan Gedung AAC Dayan Dawood, Universitas Syiah Kuala menunjukkan wajahnya sebagai lembaga pendidikan yang membuka diri bagi budaya, sejarah, dan kehidupan sosial masyarakat.

Masjid Jamik Darussalam: Pusat Spiritual dan Sosial yang Tak Pernah Sepi

Masjid Jamik Darussalam bukan sekadar tempat beribadah. Ia adalah titik pertemuan antara ilmu dan iman. Setiap waktu salat, ratusan jamaah dari berbagai latar belakang datang — mahasiswa, dosen, pegawai, hingga warga kampung sekitar. Di bulan Ramadan, suasananya makin semarak. Teras masjid dipenuhi anak-anak muda yang mengikuti tadarus Al-Qur’an, sementara warga menyiapkan takjil untuk buka puasa bersama.

Arsitektur masjid ini mencerminkan kekhasan Aceh yang berpadu dengan gaya modern. Kubah berwarna perak mengilap, pilar-pilar putih kokoh, dan jendela besar yang memancarkan cahaya alami ke dalam ruang utama salat. Selain fungsi ibadah, masjid ini sering menjadi lokasi kajian ilmiah, seminar keislaman, dan kegiatan sosial.

Yang menarik, masjid ini terbuka untuk semua kalangan, bukan hanya warga kampus. Banyak wisatawan yang datang berkunjung untuk menikmati keindahan arsitekturnya atau sekadar beristirahat di halamannya yang sejuk. Di sinilah nilai “akses publik” USK terasa paling nyata — universitas tidak hanya menjaga ilmu, tetapi juga menjaga nilai spiritual dan sosial masyarakat Aceh.

Lapangan Darussalam: Ruang Terbuka yang Menghidupkan Komunitas

Jika Masjid Jamik menjadi pusat spiritual, maka Lapangan Darussalam adalah jantung sosial kampus. Di sinilah masyarakat, mahasiswa, dan anak-anak sekitar berbaur setiap pagi dan sore. Lapangan yang luas ini dipenuhi suara tawa, langkah kaki para pelari, dan aktivitas olahraga dari berbagai komunitas. Dari kejauhan terlihat orang bermain sepak bola, bersepeda, bahkan sekadar duduk bersantai di bawah pohon. Di akhir pekan, lapangan ini menjadi tempat favorit keluarga untuk berolahraga atau menikmati kuliner kaki lima yang berjejer di sekitarnya.

Namun, fungsi lapangan tidak berhenti di situ. Ia juga menjadi lokasi upacara kenegaraan, perayaan Dies Natalis universitas, acara seni budaya, hingga kegiatan keagamaan massal. Saat pandemi berakhir, ribuan mahasiswa kembali memenuhi lapangan ini dalam acara wisuda akbar yang mengharukan. Keberadaan Lapangan Darussalam mencerminkan filosofi kampus hijau USK: menyediakan ruang terbuka hijau (RTH) yang tidak hanya berfungsi ekologis, tetapi juga sosial dan kultural.

Berdiri tegak di tengah lapangan tersebut, Tugu Darussalam mungkin tampak sederhana dibanding bangunan besar di sekitarnya. Namun, bagi masyarakat Aceh dan warga kampus, tugu ini memiliki makna yang dalam. Tugu ini didirikan sebagai penanda sejarah berdirinya kawasan pendidikan Darussalam pada masa pascakemerdekaan. Saat itu, semangat rakyat Aceh untuk membangun dunia pendidikan sangat kuat — mereka menyumbangkan emas, tanah, dan tenaga demi berdirinya Universitas Syiah Kuala. Kini, Tugu Darussalam menjadi monumen penghargaan bagi perjuangan tersebut. Di sekitarnya, banyak mahasiswa yang duduk santai, membaca buku, atau berfoto. Wisatawan lokal sering menjadikannya titik awal untuk menjelajahi area kampus. Bagi generasi muda, tugu ini bukan hanya penanda geografis, tapi simbol kebanggaan dan identitas. Ia mengingatkan bahwa ilmu pengetahuan di Aceh lahir dari perjuangan dan pengorbanan masyarakat. Dengan membuka area ini bagi publik, USK secara tidak langsung mengajarkan nilai sejarah kepada siapa pun yang datang berkunjung.

Gedung AAC Dayan Dawood: Ruang Intelektual dan Budaya yang Terbuka

Tak jauh dari lapangan utama berdiri bangunan megah dengan arsitektur modern — Gedung AAC Dayan Dawood. Nama gedung ini diambil dari Prof. Dr. Dayan Dawood, rektor legendaris USK yang dikenal karena semangat kebangsaan dan kepemimpinannya. Gedung ini menjadi pusat kegiatan ilmiah dan budaya terbesar di Aceh. Setiap tahun, gedung AAC Dayan Dawood menjadi tuan rumah bagi seminar nasional, konferensi internasional, pameran budaya, hingga kegiatan sosial seperti donor darah dan pameran buku. Yang menarik, akses ke gedung ini tidak terbatas hanya untuk kegiatan akademik. Masyarakat umum sering menggunakan fasilitasnya untuk acara kebudayaan, pertemuan komunitas, dan kegiatan pemerintahan. Ruang auditorium yang luas dan fasilitas modern menjadikannya tempat pertemuan strategis bagi berbagai pihak — universitas, pemerintah, dan masyarakat. Lebih dari itu, gedung ini juga berfungsi sebagai simbol keterbukaan intelektual USK. Di sinilah ide-ide besar tentang pendidikan, budaya, dan kemanusiaan dibahas bersama tanpa sekat.

Keempat elemen — masjid, lapangan, tugu, dan gedung — menunjukkan satu hal penting: bahwa Universitas Syiah Kuala tidak berdiri terpisah dari masyarakatnya. Kampus ini tidak dipagari secara eksklusif, melainkan dibiarkan menyatu dengan kehidupan sosial warga sekitar.

USK memahami bahwa pendidikan bukan hanya soal ruang kelas dan laboratorium, tetapi juga tentang bagaimana kampus menjadi bagian dari ekosistem sosial dan budaya. Karena itu, banyak kegiatan universitas yang melibatkan masyarakat langsung: bazar buku, festival budaya, lomba olahraga, hingga kegiatan sosial dan lingkungan.

Dengan membuka akses publik ke bangunan dan ruang bersejarah, universitas ini mempraktikkan prinsip keterbukaan dan keberlanjutan budaya. Dalam konteks internasional, langkah ini selaras dengan nilai-nilai public engagement dan cultural preservation yang menjadi tolok ukur universitas kelas dunia.

Bagi masyarakat Aceh, kawasan USK di Darussalam bukan sekadar area kampus — ia adalah ruang hidup bersama. Setiap sudutnya menyimpan cerita: doa yang terlantun di Masjid Jamik, tawa anak-anak di Lapangan Darussalam, sejarah perjuangan di Tugu Darussalam, hingga gagasan besar yang lahir di Gedung AAC Dayan Dawood.

USK telah membuktikan bahwa universitas tidak harus eksklusif atau tertutup. Ia bisa menjadi ruang publik yang mendidik, menenangkan, dan menginspirasi. Di tempat ini, ilmu pengetahuan bertemu dengan nilai budaya; modernitas bersanding dengan tradisi; dan masyarakat menemukan makna baru tentang pendidikan yang manusiawi.

Warisan untuk Masa Depan

Dalam jangka panjang, keterbukaan ini akan menjadi warisan tak ternilai bagi generasi berikutnya. Bangunan dan lanskap yang dijaga dengan baik — mulai dari Masjid Jamik hingga Tugu Darussalam — adalah simbol dari semangat masyarakat Aceh untuk terus belajar dan berkembang tanpa melupakan akar budayanya.

Melalui upaya menjaga akses publik ini, Universitas Syiah Kuala tidak hanya mencerdaskan bangsa lewat pendidikan formal, tetapi juga menjadi penjaga warisan budaya dan sosial yang menumbuhkan kebanggaan lokal.

“Kami ingin kampus ini menjadi ruang bersama yang bermanfaat bagi semua — tempat orang belajar, beribadah, berinteraksi, dan berkembang bersama,” ungkap salah satu pejabat universitas dalam wawancara singkat.

Kini, setiap langkah di kawasan Darussalam bukan sekadar perjalanan melewati bangunan kampus, melainkan perjalanan melintasi sejarah, budaya, dan harapan masa depan. Di sinilah Universitas Syiah Kuala menegaskan jati dirinya — sebuah universitas yang membuka pintunya bagi masyarakat, menjaga warisan budayanya, dan berbagi ruang bagi kemanusiaan.

https://jdih.bandungkab.go.id/ https://satudata.pasuruankota.go.id/ https://geoportal.simalungunkab.go.id/ https://agentotosuper.com/ https://mbahtotokl.com/ https://apps.fkipunlam.ac.id/ https://perpus.untad.ac.id/ https://sistabok.pasuruankota.go.id/ https://pasti.slemankab.go.id/ https://servicios.cuc.uncu.edu.ar/ Kentangwin https://linklist.bio/totosuper-resmi/ https://linklist.bio/toto-kl/ https://linklist.bio/sbopoker/ https://linklist.bio/pisangbetrupiah/ https://estd.perpus.untad.ac.id/ https://comision-gfinanciera.anuies.mx/ https://krabi-railayprincess.com/ https://krabi-railayresort.com/ https://jurnal.uinsyahada.ac.id/contact/ https://ncmh.gov.mn/