Kepala Aceh Research Center for Patchouli and Essential Oil (ARC-PUIPT Nilam) Universitas Syiah Kuala (USK), Syaifullah Muhammad, menyerukan seluruh pemangku kepentingan industri nilam Indonesia, yang terdiri dari pemerintah, perguruan tinggi, dunia usaha, masyarakat, dan media (Penta Helix), untuk bersatu. Tujuan utamanya adalah menciptakan ekosistem hulu-hilir nilam yang positif, stabil, dan berkeadilan.
Seruan ini disampaikan Syaifullah dalam Pelatihan Pemanfaatan Teknologi Produksi Komoditas Atsiri di Manado, Sulawesi Utara, yang diselenggarakan oleh Kementerian UMKM dan dihadiri sekitar 50 pelaku industri atsiri.
Menurut Syaifullah, langkah krusial untuk menjaga keberlangsungan industri adalah adanya kesepakatan harga nilam yang berkeadilan untuk semua pelaku, mulai dari petani, penyuling, pengumpul, hingga eksportir.
Ia mengungkapkan bahwa harga minyak nilam di pasar internasional masih stabil pada kisaran USD 100 atau sekitar Rp1,6 Juta per kg. Dengan acuan harga internasional ini, ARC USK menilai sangat mungkin bagi setiap pelaku usaha mendapatkan margin yang wajar.
“Sangat wajar jika petani dan penyuling mendapatkan harga jual Rp1 juta hingga Rp1,2 juta per kg. Selanjutnya, sisa margin keuntungan dapat dibagi secara adil antara pengumpul dan eksportir,” kata Syaifullah.
Ia memperingatkan bahwa harga yang terlalu tinggi, yang pernah mencapai lebih dari Rp2 juta per kg, hanya memberikan keuntungan jangka pendek dan justru merugikan industri hilir nilam global. Harga bahan baku yang terlampau tinggi akan meningkatkan Harga Pokok Produksi (HPP) industri hilir dan mendorong mereka mencari bahan alternatif pengganti nilam.
Syaifullah juga memaparkan pengalaman ARC USK selama sepuluh tahun dalam mengembangkan inovasi dan hilirisasi yang berdampak positif pada nilai tambah lokal Indonesia melalui produk turunan atsiri, khususnya nilam. Hilirisasi, menurutnya, adalah keniscayaan untuk mewujudkan kemandirian industri atsiri nasional.
“ARC USK sudah banyak menghasilkan inovasi berbasis riset dan berbagai produk turunan nilam bernilai ekonomi tinggi yang sudah masuk ke pasar. Kami siap berkolaborasi dengan semua pihak di Indonesia dan mancanegara,” ujarnya.
Syaifullah menambahkan, kolaborasi Penta Helix yang ideal mencakup: Perguruan Tinggi/Lembaga Riset: Menghasilkan inovasi teknologi produksi yang efisien, melakukan transfer teknologi, dan pendampingan mutu.
Kemudian, Pemerintah; melakukan inisiasi pelatihan, membantu pembiayaan awal, akses pasar, dan memastikan regulasi yang adil. Industri Keuangan; Mendukung pembiayaan dengan pinjaman lunak, kredit ekspor, dan idealnya menghadirkan lembaga penjamin kredit untuk pertanian rakyat. Lalu, Media Massa; Membantu diseminasi informasi positif dan edukasi kepada masyarakat.
Pelatihan ini turut dihadiri perwakilan dari berbagai perguruan tinggi lain seperti Universitas Indonesia, Universitas Jenderal Soedirman, Universitas Sam Ratulangi, dan Universitas Negeri Manado, menunjukkan komitmen akademisi dalam mendukung pembangunan industri atsiri Indonesia.