Sekelompok mahasiswa lintas program studi dari Universitas Syiah Kuala (USK) berhasil menciptakan produk perawatan kulit inovatif bernama KAYE. Produk ini adalah hand cream multifungsi yang memanfaatkan limbah kulit pepaya dan minyak kayu manis sebagai bahan baku utama, mengedepankan aspek keberlanjutan dan nilai lokal.
Tim Program Kreativitas Mahasiswa Kewirausahaan (PKM-K) ini dibimbing oleh Apt. Nadia Isnaini, S.Farm., M.Sc., ini terdiri dari Rahmi Azalia, Fadia Hanum, dan Alya Nadhifah (Farmasi), Rizqa Ilmina (Ilmu Komunikasi), serta Sarah Ardelia (Manajemen).
“Kolaborasi lintas ilmu ini bertujuan menciptakan produk yang tidak hanya unggul secara formulasi, tetapi juga memiliki strategi branding yang kuat,” ungkap Nadia.
Rahmi Azalia, selaku ketua tim, menjelaskan bahwa ide KAYE diambil dari kata Aceh, “kaye maneh” yang berarti kayu manis, muncul dari keprihatinan terhadap limbah organik. Kajian literatur yang mereka lakukan menunjukkan bahwa kulit pepaya, yang selama ini terbuang; mengandung antioksidan tinggi seperti flavonoid, vitamin C, dan beta-karoten, serta polisakarida sebagai humektan (penjaga kelembaban) alami.
Sementara itu, minyak kayu manis ditambahkan karena kandungan cinnamaldehyde dan eugenol-nya yang berfungsi sebagai antioksidan, pelembab, dan yang terpenting, memiliki potensi sebagai pelindung sinar UV.
“Yang membedakan KAYE dari produk lain di pasaran adalah pendekatan multifungsi berbasis bahan alami lokal. Dalam pengujian laboratorium, formulasi kami dengan 0,5% minyak kayu manis menunjukkan nilai SPF sebesar 18, cukup untuk perlindungan ringan dari paparan sinar UV,” jelas Rahmi.
Pembuatan KAYE diawali dengan ekstraksi kulit pepaya melalui metode maserasi. Kulit buah dikumpulkan dari sumber lokal, dikeringkan, dan diekstraksi untuk menghasilkan ekstrak kental berkualitas tinggi.
“Selain manfaat klinis, penggunaan limbah pertanian sebagai bahan utama memperkuat aspek keberlanjutan dan tanggung jawab lingkungan. Inisiatif ini menawarkan solusi atas permasalahan limbah organik yang belum dimanfaatkan secara optimal di tingkat lokal,” tambah Rizqa.
Dibanderol dengan harga terjangkau, Rp25.000, KAYE dirancang sebagai alternatif ekonomis dan berkualitas. Tim berharap KAYE dapat menjadi inspirasi bagi mahasiswa lain untuk berinovasi dan mengangkat potensi lokal menjadi produk bernilai guna tinggi yang kompetitif di pasar.