Universitas Syiah Kuala

Alumni FK USK Jadi Duta Pemuda Indonesia 2025

Dua alumni Fakultas Kedokteran Universitas Syiah Kuala Imam Maulana dan Shabrina Masturah berhasil terpilih sebagai Duta Pemuda Indonesia 2025, dalam ajang bergengsi Pertukaran Pemuda Antar Provinsi (PPAP) yang diselenggarakan Kementerian Pemuda dan Olahraga Republik Indonesia.

Program yang berlangsung pada 3–17 Oktober 2025 ini menugaskan Imam Maulana di Kabupaten Kotawaringin Barat, Kalimantan Tengah. Lalu  Shabrina Masturah ditempatkan di Kabupaten Gianyar, Bali.

Sebagai delegasi yang mewakili Aceh, keduanya akan mengemban misi penting: mengabdi kepada masyarakat, memperkuat jejaring kepemudaan, mempelajari kearifan lokal di daerah penempatan, serta memperkenalkan budaya Aceh di tingkat nasional.

Pemilihan Imam dan Shabrina sebagai Duta Pemuda Indonesia mendapat apresiasi penuh dari jajaran pimpinan USK. Dr. Rina Suryani Oktari, S.Kep., M.Si., FRSPH, selaku Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan, Alumni, dan Kemitraan Fakultas Kedokteran USK, menilai keberhasilan ini menjadi bukti nyata kiprah alumni FK USK di panggung nasional.

Menurutnya, Imam dan Shabrina adalah teladan bagi mahasiswa dan alumni. Mereka tidak hanya unggul dalam bidang akademik, tetapi juga mampu menyeimbangkannya dengan kepemimpinan, pengabdian masyarakat, dan pelestarian budaya.

“Kami percaya pengalaman mereka di PPAP akan menjadi bekal penting untuk memperkuat kontribusi pemuda Aceh, sekaligus mengharumkan nama Universitas Syiah Kuala,” ujar Dr. Rina.

Hal senada disampaikan oleh Prof. Dr. Mustanir, M.Sc., Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan dan Kewirausahaan USK. Ia menekankan pentingnya peran alumni dalam mengangkat citra universitas di tingkat nasional. USK selalu mendorong mahasiswa dan alumni untuk aktif dalam berbagai ajang kepemudaan.

“Terpilihnya Imam dan Shabrina menunjukkan bahwa kompetensi lulusan kita diakui di tingkat nasional. Kami berharap prestasi ini dapat memotivasi mahasiswa lain untuk terus berkembang dan menjadi agen perubahan di tengah masyarakat,” ujar Prof. Mustanir.

Imam Maulana adalah alumni FK USK angkatan 2015. Saat ini ia berprofesi sebagai dokter umum sekaligus mahasiswa magister Ilmu Kebencanaan FK USK. Imam dikenal aktif dalam berbagai kegiatan kepemudaan dan sosial. Ia menjabat sebagai Direktur Ikatan Mahasiswa Berprestasi FK USK serta memimpin Generasi Edukasi Nanggroe Aceh (GEN-A).

Kiprahnya di tingkat nasional dan Internasional juga diakui. Imam pernah menjadi Local Coordinator CIMSA FK USK 2017/2018 dan memperoleh Lifetime Achievement Trainer CIMSA Indonesia 2025 berkat konsistensinya melatih soft skills pemuda dari berbagai daerah. Ia juga meraih predikat mahasiswa berprestasi USK setelah tim yang ia pimpin mendapatkan Medali Emas pertama bagi USK dalam ajang Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional (PIMNAS) ke-32 serta lulus tanpa skripsi dan KKN.

Selain aktif di dunia medis dan organisasi, Imam juga memiliki sisi seni dan budaya yang kuat. Ia adalah pelatih tarian tradisional Likok Pulo serta pengembang seni adaptasi Nandong Smong, sebuah karya inovatif yang memadukan seni tradisi Simeulue dengan pesan edukasi kebencanaan. Karya ini bahkan telah ditampilkan dalam berbagai forum nasional maupun internasional.

“PPAP bagi saya bukan hanya sekadar pertukaran budaya, tetapi ruang belajar dan pengabdian. Saya ingin membawa pulang nilai kebersamaan dari Kalimantan untuk memperkaya semangat kolaborasi di Aceh. Setiap pengalaman yang saya peroleh di program ini akan saya dedikasikan untuk penguatan kapasitas pemuda di tanah kelahiran saya,” ungkap Imam.

Adapun Shabrina Masturah adalah alumni FK USK 2019 yang kini berprofesi sebagai dokter umum. Selama menempuh pendidikan, ia dikenal aktif di organisasi mahasiswa. Di antaranya menjabat sebagai Local Coordinator CIMSA FK USK 2021/2022. Shabrina juga dipercaya memegan predikat Expert Trainer CIMSA Indonesia, sebuah posisi yang memberinya kesempatan melatih capacity building dan soft skills bagi pemuda di berbagai daerah di Indonesia.

Selain kiprah kepemudaan, Shabrina juga dikenal sebagai penari tradisional yang menguasai berbagai tarian khas Aceh seperti Ratoh Jaroe, Likok Pulo, Pho, Peumulia Jamee, dan Meuseukat. Ia berencana menampilkan keahliannya itu dalam program PPAP sebagai bagian dari diplomasi budaya Aceh.

“Aceh memiliki warisan budaya yang sangat kaya. Melalui PPAP, saya ingin memperkenalkan tarian tradisional kita sebagai bahasa universal untuk mempererat persaudaraan antar pemuda. Saya percaya budaya adalah medium terbaik untuk menumbuhkan rasa kebersamaan di tengah keberagaman Indonesia,” tegas Shabrina.

 Terpilihnya Imam Maulana dan Shabrina Masturah menjadi delegasi PPAP 2025 bukan hanya sebuah kebanggaan bagi Aceh, tetapi juga bagi Universitas Syiah Kuala. Keberhasilan ini menunjukkan bahwa alumni FK USK mampu bersaing dan diakui secara nasional, baik dalam bidang akademik, kepemimpinan, maupun seni budaya.

Dengan dukungan dari universitas, keduanya diharapkan mampu menjadi jembatan persahabatan antardaerah, memperkuat citra positif Aceh, sekaligus menginspirasi generasi muda untuk berperan aktif dalam pembangunan bangsa.

“Dari Aceh untuk Indonesia, dan dari USK untuk dunia. Itulah semangat yang kami harapkan dapat mereka bawa. Prestasi ini membuktikan bahwa alumni Universitas Syiah Kuala siap mengabdi untuk negeri, di manapun mereka ditempatkan,” tutup Dr. Rina.

https://jdih.bandungkab.go.id/ https://satudata.pasuruankota.go.id/ https://geoportal.simalungunkab.go.id/ https://agentotosuper.com/ https://mbahtotokl.com/ https://apps.fkipunlam.ac.id/ https://perpus.untad.ac.id/ https://sistabok.pasuruankota.go.id/ https://pasti.slemankab.go.id/ https://servicios.cuc.uncu.edu.ar/ Kentangwin https://linklist.bio/totosuper-resmi/ https://linklist.bio/toto-kl/ https://linklist.bio/sbopoker/ https://linklist.bio/pisangbetrupiah/ https://estd.perpus.untad.ac.id/ https://comision-gfinanciera.anuies.mx/ https://krabi-railayprincess.com/ https://krabi-railayresort.com/ https://jurnal.uinsyahada.ac.id/contact/ https://ncmh.gov.mn/