Universitas Syiah Kuala

Kodam Iskandar Muda Ajak Mahasiswa Baru USK Jaga Keutuhan Bangsa

Kodam Iskandar Muda mengajak ribuan mahasiswa baru Universitas Syiah Kuala untuk menjadi bagian dalam upaya keutuhan bangsa Indonesia. Pesan ini disampaikan Kabintal Jarahdam Iskandar Muda Kol. Arm. Arief Darmawan, S.Sos kepada kegiatan Pembinaan Akademik dan Karakter Mahasiswa Baru (PAKARMARU) tahun 2025 di Gedung AAC Dayan Dawood. (Banda Aceh, 12 Agustus 2025).

Pada kesempatan itu, Arief memberikan pembekalan tentang wawasan kebangsaan kepada ribuan mahasiswa baru USK ini.  Sebelumnya Arief menjelaskan makna wawasan kebangsaan menurut Peraturan Menteri Dalam Negeri Republik Indonesia No 71 Tahun 2012 tentang Pedoman Pendidikan Wawasan Kebangsaan.

Berdasarkan Peraturan Mendagri tersebut, wawasan kebangsaan adalah, cara pandang bangsa Indonesia tentang diri dan lingkungannya yang mengutamakan persatuan dan kesatuan bangsa serta kesatuan wilayah, serta dilandasi Pancasila, UUD 1945, Bhineka Tunggal Ika, dan NKRI.

Lalu Arief menyinggung peran para pahlawan di masa lalu. Dirinya menyebutkan, terkadang kita mengetahui pahlawan-pahlawan yang berjuang untuk bangsa Indonesia. Namun terkadang kita tidak mengetahui, apa saja yang melatarbelakangi para pahlawan ini berjuang untuk bangsa.

“Namun pada intinya, para pahlawan yang gugur di masa itu, pada masanya mereka masing-masing. Tahunnya mereka masing-masing, intinya mereka 100% ikhlas untuk bangsa dan negara,” ucapnya.

Untuk itulah, dirinya mengajak mahasiswa baru USK untuk kembali mempelajari sejarah bangsa ini. Sebab dari sejarah itulah perekat nasionalisme kita. Menurut Arief, ada banyak pahlawan yang gugur tidak di tanah kelahirannya. Seperti Cut Nyak Dhien yang dimakamkan di Sumedang, Jawa Barat. Atau Diponegoro yang dimakamkan di Makassar.

 “Inilah bukti perekat nasionalisme kita. Di mana kita sebagai orang Aceh akan nyekar ke makam Cut Nyak Dien di sana. Ziarah ke sana, begitu pula orang Jawa Tengah ziarah Diponegoro di Makassar,” ucapnya.

Arief kemudian menjelaskan bagaimana pada  abad ke 7, ketika kerajaan Sriwijaya runtuh bukan karena bangsa lain. Tapi akibat konflik oleh bangsanya sendiri. Lalu pada abad ke 14 peristiwa yang sama terulang lagi pada kerajaan Majapahit.

“Tidak pernah tercatat dalam sejarah kerajaan Majapahit ini bubar karena invasi bangsa lain. Tapi hancur karena persoalan bangsanya sendiri,” ucapnya.

Kalau diperhatikan pengulangan sejarah ini terus berlanjut dari abad 7, 14 sampailah abad sekarang yaitu abad 21. Meskipun abad 21 ini masih panjang, serta pengulangan sejarah ini semacam “kutukan”, namun kita patut mengantisipasinya agar penyebab keruntuhan kerajaan besar itu tidak kembali terulang.

 “Yang jelas kita sama-sama berharap peristiwa runtuhnya kerajaan Sriwijaya dan Majapahit tidak terjadi lagi. Mari kita sama-sama jaga bangsa ini, ya kita jaga bersama,” ucapnya.

https://jdih.bandungkab.go.id/ https://satudata.pasuruankota.go.id/ https://geoportal.simalungunkab.go.id/ https://agentotosuper.com/ https://mbahtotokl.com/ https://apps.fkipunlam.ac.id/ https://perpus.untad.ac.id/ https://sistabok.pasuruankota.go.id/ https://pasti.slemankab.go.id/ https://servicios.cuc.uncu.edu.ar/ Kentangwin https://linklist.bio/totosuper-resmi/ https://linklist.bio/toto-kl/ https://linklist.bio/sbopoker/ https://linklist.bio/pisangbetrupiah/ https://estd.perpus.untad.ac.id/ https://comision-gfinanciera.anuies.mx/ https://krabi-railayprincess.com/ https://krabi-railayresort.com/ https://jurnal.uinsyahada.ac.id/contact/ https://ncmh.gov.mn/