Magister Ilmu Kebencanaan Universitas Syiah Kuala menyelenggarakan Focus Group Discussion (FGD) berjudul “Strategi Penguatan Ketahanan Komunitas Pesisir Kota Banda Aceh Berdasarkan 11 Indikator IFRC”. (Banda Aceh, 7 Juli 2025).
Kegiatan ini merupakan bagian dari penelitian tesis mahasiswa magister yang dipimpin oleh Dr. Rina Suryani Oktari, S.Kep., M.Si., dan bertujuan untuk menjaring masukan dari para pemangku kepentingan guna menyusun strategi ketahanan komunitas berbasis data lapangan.
FGD yang berlangsung di Gedung Tsunami and Disaster Mitigation Research Center (TDMRC) USK ini diawali dengan pemaparan temuan awal oleh Tibyan Asyukri, mahasiswa Magister Ilmu Kebencanaan USK, mengenai tingkat ketahanan masyarakat pesisir di salah satu desa di Kota Banda Aceh. Penelitian ini menggunakan pendekatan bottom-up, di mana informasi dikumpulkan langsung dari masyarakat dan dibahas bersama para pemangku kebijakan.
Diskusi ini dihadiri oleh perwakilan dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Banda Aceh, Dinas Kesehatan, Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR), Dinas Pangan, Pertanian, Kelautan dan Perikanan, Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Gampong, Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (BAPPEDA), PDAM Tirta Daroy, Palang Merah Indonesia (PMI) Kota Banda Aceh, dan Human Initiative.

Diskusi mengacu pada 11 indikator ketahanan komunitas yang dikembangkan oleh IFRC, mencakup manajemen risiko bencana, kesehatan, air bersih dan sanitasi, shelter, ketahanan pangan, ekonomi, kohesi sosial, inklusi, infrastruktur, pengelolaan sumber daya alam, dan keterhubungan antar lembaga. FGD ini menjadi ruang kolaboratif untuk berbagi pandangan, memvalidasi temuan lapangan, dan memperkuat sinergi lintas sektor dalam memperkuat ketahanan masyarakat pesisir Kota Banda Aceh.Kegiatan ini menjadi ruang kolaboratif untuk berbagi pandangan dan memperkuat sinergi lintas sektor.
FGD ditutup oleh Ketua Peneliti, Dr. Rina Suryani Oktari, yang menyampaikan terima kasih atas partisipasi semua pihak. Ia menegaskan bahwa kegiatan ini merupakan bentuk kontribusi akademisi dalam memberikan evidence-based policy.
“Bapak dan Ibu di sini adalah pemangku kebijakan dan praktisi yang bekerja langsung dengan masyarakat. Harapan kami, hasil diskusi ini dapat menjadi masukan berharga dalam perumusan kebijakan penguatan ketahanan masyarakat pesisir di Kota Banda Aceh,” ujarnya.
Hasil FGD ini akan dirangkum dalam dokumen kajian untuk mendukung kebijakan berbasis bukti, serta memperkuat kolaborasi antara lembaga pemerintah, NGO, dan akademisi untuk meningkatkan ketahanan masyarakat di kawasan pesisir.