Berwirausaha menjadi pilihan yang tepat pada era globalisasi ini. Orientasi masyarakat untuk bekerja dalam pemerintahan sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS) harus dikurangi. Hal itu disampaikan oleh Pembantu Rektor IV Bidang Kerja Sama Universitas Syiah Kuala Dr. Nazamuddin, S.E, M.A. pada pembukaan Technopreneurship Training di gedung AAC Dayan Dawood, Selasa (14/10). Training yang berlangsung sejak 14-15 Oktober 2014 itu bertema “Mencetak Generasi Pengusaha Berbasis Syariah dan Berwawasan Global untuk Menjawab Tantangan Ekonomi Umat”.
“Kita tidak bisa mengelak dari persaingan ekonomi dan teknologi global. Mau tidak mau, kita harus siap menghadapi tantangan global dan pasar. Tantangan ini harus mampu dijadikan kesempatan untuk membangun ekonomi bangsa. Kalau kita tidak mengambil kesempatan itu, malah akan manjadi korban,” sebut pakar ekonomi tersebut.
Ia mengatakan, orientasi untuk menjadi PNS harus dikurangi. Mulailah untuk membangun diri untuk bisa berwirausaha di sektor wiraswasta. Penghasilan di bidang wirausaha jauh lebih banyak ketimbang bekerja sebagai PNS. Setiap masyarakat harus bertekad untuk bersaing, baik itu dalam bisnis dan perdagangan ataupun sektor nonpemerintah lainnya.
“Pelatihan seperti ini akan rutin dilaksanakan selama empat tahun melalui dukungan Islamic Development Bank (IDB) dengan menghadirkan pemateri-pemateri yang andal untuk membangkitkan semangat berwirausaha bagi mahasiswa. Semoga dalam kurun waktu empat tahun akan muncul pengusaha-pengusaha baru dari tujuh universitas yang tergabung dalam 7in1 IDB,” pungkas Nazam.
Sementara itu, Drs. Dindin Sjafruddin, Senior Trainer Bank Indonesia menjelaskan bahwa technopreneur adalah suatu konsep untuk masa depan bagi orang yang ingin maju.
“Konsep kemajuan itu harus diawali dengan hidup yang semangat. Kenali diri. Kenali kekurangan diri dan perbaiki kekurangan tersebut,” tukasnya.
Dindin, di sela-sela pemaparannya, mempersilakan peserta training untuk saling sapa dan berkenalan dengan peserta lain untuk menambah relasi dan wawasan.
Kepala Cabang Bank Muamalat Banda Aceh, Drs. Zulkarnaen, menambahkan, para pengusaha, terutama pengusaha utama, mesti mempunyai mental yang kuat dalam berwirausaha. Jangan cepat menyerah dan mengeluh. Perbankan selama ini banyak menyediakan pinjaman lunak kepada nasabahnya. Tinggal pengusaha saja yang harus mampu meyakinkan bank untuk bekerja sama.
“Pengusaha harus mampu melihat prospek usaha yang dijalankan. Jangan monoton karena ikut-ikutan. Ciptakan usaha yang inovatif sehingga mampu menarik konsumen. Kemudian, budayakan hidup yang disiplin. Secara duniawi, kebiasaan orang Cina patut ditiru. Mereka selalu bangun pagi untuk berolahraga dan berdagang. Umat Islam bisa mencontoh kebiasaan ini,” jelasnya.
Sedangkan Direktur Eksekutif Project Implementation Unit (PIU) 7in1 Unsyiah, Dr. Tarmizi, M.Sc., mengungkapkan, pelatihan technopreneurship ini merupakan bagian dari proyek pengembangan tujuh universitas di Indonesia yang dibiayai oleh IDB dan sering disebut proyek IDB 7in1. Training ini diikuti oleh 150 mahasiswa. Ketujuh universitas yang tergabung dalam 7in1 adalah Universitas Lambung Mangkurat (Unlam), Universitas Tanjung Pura (Untan), Universitas Negeri Surabaya (Unesa), Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), Universitas Sam Ratulangi (Unsrat), Universitas Negeri Gorontalo (UNG), dan Universitas Syiah Kuala (Unsyiah).
“PIU 7in1 akan mengupayakan tersedianya peralatan laboratorium yang memadai di kampus. Program lainnya antara lain adalah pelatihan dan publikasi karya tulis, pelatihan intensif bahasa Inggris kepada mahasiswa tingkat akhir, serta pelatihan kewirausahaan agar tidak PNS oriented,” sebutnya. [rz-be]
PIU 7in1 Gelar Technopreneurship Training
- Category: Kabar USK