Universitas Syiah Kuala dan Pemerintah Kota Banda Aceh membahas kelanjutan wacana pembangunan jembatan Lamnyong serta tata kota di seputaran kampus. Pembahasan tersebut melibatkan jajaran Satuan Kerja Pemerintah Daerah (SKPD) Kota Banda Aceh dan akademisi Unsyiah yang dilaksanakan di Balai Senat Unsyiah, Senin (20/10).
Wali Kota Banda Aceh Hj. Illiza Sa’aduddin Djamal, S.E. mengatakan, soal kemacetan yang sering terjadi di jembatan Lamnyong dan jalan menuju kampus sudah dibahas dengan Gubernur Aceh. Bahkan Pemko Banda Aceh sudah meminta Gubernur untuk menjadikannya sebagai prioritas pembangunan pada tahun 2015. Bila perlu, dijadikan sebagai program nasional agar mendapatkan bantuan dari APBN.
“Kemacetan di sekitar Darussalam sudah luar biasa sehingga (kami) banyak mendapat kiriman SMS keluhan dari masyarakat. Oleh karena itu, Pemko akan bekerja sama dengan Unsyiah untuk menyelesaikan masalah tersebut,” ungkapnya.
Rektor Unsyiah Prof. Dr. Ir. Samsul Rizal, M.Eng. mengatakan, kawasan Darussalam atau lebih dikenal dengan Kota Pelajar dan Mahasiswa (Kopelma) semakin berkembang dengan pertumbuhan populasi yang pesat. Unsyiah berharap ada kerja sama yang kongkret antara pihak kampus dan pemerintah dalam penataan dan pemeliharaan kebersihan sepanjang jalan yang melintasi kampus Unsyiah dan UIN Ar-Raniry.
“Lokasi-lokasi yang perlu penataan meliputi Jalan Teuku Nyak Arief, mulai dari jembatan Lamnyong sampai Tungkob. Selanjutnya, penataan di Jalan Lingkar Kampus dan lingkungan Kopelma Darussalam,” sebutnya.
Rektor juga menyebutkan, akses untuk masuk ke kawasan Unsyiah selama ini terlalu terbuka. Akibatnya, banyak kenderaan yang hilang di lingkungan kampus. Akses jalan terbuka perlu diperkecil pada waktu-waktu tertentu untuk mengurangi pencurian kendaraan. Tujuan kami hanya untuk menciptakan ketertiban dan keamanan kampus.
“Penambahan jembatan menjadi dua itu bukanlah solusi. Upaya itu hanya akan memindahkan masalah dari sekarang ke dua atau tiga tahun ke depan seperti yang terjadi dengan jembatan Simpang Surabaya. Jembatan tersebut sudah diperlebar dua kali, tapi kemacetan masih terjadi. Begitu juga dengan jembatan Lamnyong. Apabila diperlebar, maka bagaimana dengan luas jalan menuju kampus?” sebut Dr. Ir. Sofyan, M.Sc, Eng., dosen Fakultas Teknik Unsyiah.
Sementara itu, Kepala Dinas Perhubungan Komunikasi dan Informatika (Kadishubkominfo) Banda Aceh Muzakir Tulot menambahkan, jalan keluar untuk menyelesaikan masalah kemacetan di Darussalam yaitu dengan membangun fly over atau underpass di jembatan Lamnyong.
“Sedangkan lampu rambu lalu lintas (traffic light) yang dipasang selama ini bukan program pemerintah. Traffic light itu dibuat berdasarkan permintaan masyarakat yang resah dengan kecelakaan lalu lintas akibat padatnya kendaraan,” pungkasnya. [rz-be]
Unsyiah dan Pemko Bahas Jembatan Lamnyong
- Category: Kabar USK