
International Instituite of Islamic Thought (IIIT) menggandeng Universitas Syiah Kuala (Unsyiah) dan Universitas Islam Negeri (UIN) Ar-Raniry untuk melakukan islamisasi ilmu pengetahuan. Hal itu disampaikan oleh Sekretaris Umum IIIT, Prof. Dr. Omar Hasan Kasule dalam focus group discussion (FGD) yang berlangsung di Balai Senat Unsyiah, Selasa (12/7).
“Saat ini umat Islam sedang dirudung krisis sistem pendidikan. Terjadi kesenjangan antara pendidikan umum dengan pendidikan Islam. Pendidikan umum yang berjalan di kampus dan sekolah umum selama ini umumnya memisahkan antara ilmu dengan nilai-nilai Islam,” ujarnya.
Lulusan doktor Harvard University itu menyebutkan, dikotomi antara ilmu pengetahuan dengan Islam ini merupakan pemikiran barat sebagai proses sekularisasi ilmu pengetahuan. Sedangkan dalam Islam pendidikan dan agama itu berjalan seiringan. Oleh karena itu, perlu adanya integrasi ilmu dengan nilai-nilai Islam dalam proses pendidikan. Umat Islam harus mampu melakukan kombinasi antara pendidikan sekuler dengan pendidikan Islam. Sekarang kita punya Kitabul Wahid yakni Al-Qur’an dan Sunnah dan Kitabul Qaul yakni sains atau ilmu akal. Kedua itu harus dikombinasikan sesuai dengan nilai-nilai Islam agar terciptanya peradaban Islam yang rahmatan lil ‘alamin.
“Meletakkan nilai-nilai Islam dalam sistem pendidikan awalnya memang berat. Namun, seiring waktu akan terwujud sebagaimana yang dimaksud. Islamisasi ilmu pengetahuan dapat dicapai secara perlahan. Untuk itu, para tenaga pendidik dari berbagai level perlu memberikan pemahaman kepada muridnya tentang perbedaan antara pendidikan yang bercorak Islam dengan pendidikan yang sekuler. Misalnya, Islam melarang sistem riba, tapi dalam pemikiran sekuler sistem riba tidak dipermasalahkan,” jelasnya.
Sementara itu, Koordinator IIIT Indonesia, Drs. Muhammad Siddik, MA mengungkapkan, tidak ada dikotomi ilmu dalam Islam. Pendidikan di kampus selama ini umumnya belum memiliki konektivitas antara ilmu dengan nilai-nilai Islam. Padahal integrasi antara ilmu yang berbasis wahyu dan ilmu berbasis akal sangat diperlukan.
“Islamisasi ilmu pengetahuan sangat penting. Epistimologi Islam perlu dikembalikan,” sebut Mantan Direktur IDB Kawasan Asia Pasifik itu.
Rektor Unsyiah, Prof. Dr. Ir. Samsul Rizal, M.Eng dalam sambutannya menyambut baik tawaran IIIT tersebut. “Unsyiah sudah mulai menjalankan integrasi antara ilmu pengetahuan dengan nilai-nilai Islam. Para dosen diminta untuk memuat nilai-nilai Islam dalam materi kuliah yang diajarkan dan beberapa fakultas sudah mempraktekkannya.”
Selain itu, lanjutnya, 60 persen aset nasional hanya dipegang oleh 2 persen penduduk Indonesia. Ironisnya, 2 persen tersebut pun merupakan kalangan non-muslim. Maka umat Islam di Indonesia harusnya dapat mengejar ketertinggalan untuk kembali meraih kejayaan seperti yang pernah ditorehkan pada masa kejayaan Islam dulu.
Berbeda dengan yang disampaikan Rektor UIN Ar-Raniry, Prof. Dr. Farid Wajdi. Ia mengatakan, sangat sulit menggabungkan antara sistem pendidikan sekuler dengan nilai-nilai Islam. Pasalnya, Indonesia tidak memiliki dasar untuk memasukkan nilai-nilai Islam dari kurikulum pendidikan.
“Semua umat Islam setuju supaya sistem pendidikan kita bercorak Islam. Namun, sepertinya mustahil jika memasukkan nilai-nilai Islam dalam sistem pendidikan Indonesia yang masih menganut sistem pancasila. Jadi, perlu ada dasar terlebih dahulu supaya nilai-nilai Islam itu bisa dimasukkan dalam sistem pendidikan di Indonesia,” pungkasnya.
Editor: Reza Fahlevi