%20(1).jpg)
Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) Republik Indonesia, DR. (HC) Zulfikli Hasan, S.E., M.M, mengharapkan Indonesia menjadi negara yang kuat dalam orasi ilmiahnya di gedung AAC Dayan Dawood Universitas Syiah Kuala (Unsyiah) pada Selasa, 6 September 2016. Orasi tersebut disampaikan dalam rangka memperingati Dies Natalis Unsyiah yang ke-55.
Dalam orasinya yang berjudul Peran Perguruan Tinggi dalam Kehidupan Bernegara dan Berkonstitusi, Ketua MPR menegaskan agar seluruh rakyat Indonesia mempertahankan nilai-nilai kebudayaannya. Semua elemen masyarakat harus mampu mengembangkan budaya yang koheren dengan jiwa kemajuan. Objektivikasi dan pelembagaan sistem nilai dan sistem keyakinan sangat dibutuhkan untuk mentransformasi Indonesia menjadi bangsa seperti yang dicita-citakan pembukaan UUD 1945.
“Bangsa yang maju adalah bangsa yang memiliki prinsip yang kuat, bukan bangsa yang mudah dinegosiasi. Bukan bangsa yang lembek, bukan bangsa tempe. Bangsa yang tegak dalam cita-cita Proklamasi. Kita tidak boleh membiarkan jumlah penduduk Indonesia yang besar ini hanya menjadi pasar bagi produk negara-negara lain. Apalagi untuk produk bekas dan berkualitas rendah,” ketusnya.
Menurutnya, seluruh rakyat Indonesia tidak boleh membiarkan kekayaan alamnya yang melimpah menjadi ajang rebutan bagi negara-negara lain untuk kemajuan industri mereka. Apalagi dengan cara penyelundupan. Semua aset kekayaan alam harus diolah oleh orang Indonesia. Bukan langsung diekspor sebagai bahan mentah. Jangan membiarkan surplus demografi Indonesia hanya dijadikan pemasok buruh murah di negeri orang.
“Di samping itu, perguruan tinggi juga harus memiliki sikap terhadap semua ini. Jangan lembek dan diam saja. Kaum intelektual tidak boleh berumah di awan. Harus turun ke bumi dan bertanggung jawab terhadap nasib negerinya,” sebutnya.
Sementara itu, Rektor Unsyiah dalam laporan tahunannya menjelaskan, Unsyiah sedang berupaya terus untuk memperkuat tiga dharma perguruan tinggi yaitu, pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat. Salah satu bukti nyata komitmen Unsyiah berperan dalam masyarakat adalah, digelarnya Bakti Sosial Terintegrasi di Kabupaten Gayo Lues pada pertengahan Agustus lalu. Melibatkan lebih dari 300 orang dari civitas akademika Unsyiah dengan lintas kompetensi.
“Milad Unsyiah kali ini terasa sangat istimewa, karena banyak pencapaian positif yang berhasil digapai dalam satu tahun belakangan. Perolehan akreditasi A sepertinya telah menjadi induktor bagi berbagai prestasi Unsyiah lainnya. Salah satunya dengan masuknya Unsyiah dalam peringkat 10 besar dalam webometrics perguruan tinggi di Indonesia. Selain itu, jumlah publikasi ilmiah Unsyiah di tingkat internasional juga telah disitasi oleh para ilmuan seluruh dunia,” kata Prof Samsul.
Untuk urusan ini, lanjutnya, Unsyiah berada di posisi ke-5 secara nasional. Dalam hal ini, hanya empat perguruan tinggi besar nasional yang berada di atas Unsyiah yaitu UI, ITB, UGM, dan IPB. Sejujurnya, capaian ini melebihi target milestone capaian periode kedua master plan Unsyiah. Kemudian, beberapa prestasi membanggakan yang diraih mahasiswa Unsyiah tahun ini di aantaranya, juara kompetisi debat konstitusi tingkat nasional, juara lomba film pendek nasional, juara nasional business plan, juara Kompetisi Inovasi Kebijakan Publik, juara Lomba Diskusi Parade Cinta Tanah Air, juara Olimpiade Nasional MIPA, serta juara lomba debat hukum, debat bahasa inggris dan debat bahasa Indonesia. Selain itu, para mahasiswa Universitas Syiah Kuala juga berhasil menjadi juara umum dalam Peksimida ke-13 di Langsa. Sementara dalam Pekan Olah Raga Mahasiswa Nasional (POMNAS) yang diselenggarakan di Universitas Syiah Kuala akhir tahun lalu, para atlit mahasiswa Universitas Syiah Kuala juga berhasil menjadi pengumpul medali terbanyak di Sumatera. Semua capaian tersebut merupakan wujud dari dukungan semua pihak.
Gubernur Aceh, Dr. Zaini Abdullah yang turut hadir dalam kegiatan itu berharap Unsyiah dapat tampil sebagai motor penggerak kemajuan kualitas pendidikan di Aceh. Untuk mewujudkan harapan itu, ada enam hal yang mesti ditingkatkan yakni, meningkatkan kualitas input mahasiswa yang baik, kualitas staf pengajar, kurikulum, dan fasilitas pendidikan yang baik. Kemudian pengelolaan sumber keuangan yang transparan dan akuntabel, lingkungan akademik yang kondusif dan tingkat disiplin yang tinggi, mampu menghasilkan alumni berkualitas yang relevan dengan kebutuhan. Terakhir, meningkatkan peran aktif civitas akademika Unsyiah dalam pembangunan bangsa.
“Namun, Pemerintah Aceh tentu juga punya tanggung jawab moral untuk mendorong Unsyiah menjalankan enam langkah ini. Jika diibaratkan kereta api, lokomotifnya ada pada manajemen kampus, sementara yang lain ada di posisi gerbong. Karena itu pihak pengelola dituntut bergerak cepat menjalankan manajemen kampus dengan sebaik-baiknya. Saya percaya dengan potensi yang dimiliki, Unsyiah mampu tampil sebagai salah satu kampus bergengsi di kawasan Asia Tenggara,” pungkasnya.
Hadir dalam kegiatan tersebut Kapolda Aceh, Kajati Aceh, Azwar Abubakar (Mantan Menteri PAN-RB), Muslim Aiyub (Anggota DPR-RI), perwakilan Kodam IM, dan pejabat SKPA lainnya.
Editor: Reza Fahlevi