
Universitas Syiah Kuala menjadi tuan rumah (Council of Rector of Indonesian State University-Council of University President of Thailand (CRISU-CUPT) ke 12, yang dilaksanakan mulai tanggal 11 – 13 Oktober 2017 di Hotel Hermes, Banda Aceh. (Kamis,12/10).
Konferensi Internasional ini mengangkat tema “Enhancing Disaster Resilience Through Education: Opportunities and Challenges for Indonesian and Thai Universities”, dan melibatkan universitas-universitas yang ada di Indonesia dan Thailand.
Rektor Unsyiah Prof.Dr.Ir. Samsul Rizal M. Eng mengatakan, Unsyiah merasa terhormat karena turut berpartisipasi pada konferensi penting ini. Rektor menilai, selama ini CRISU-CUPT telah berperan cukup signifikan dalam membangun hubungan dan memperkuat kolaborasi antar universitas yang ada di kedua negara tersebut.
“CRISU-CUPT adalah acara tahunan yang dilakukan secara konsisten untuk memperkuat hubungan timbal balik antara Thailand dan Indonesia, dalam rangka menghadapi tantangan bagi pengembangan SDM di masa depan,” ujar Rektor.
Chairman of CRISU Prof. Dr. Syafsir Akhlus, M.S mengatakan, konferensi ini bertujuan untuk memfasilitasi pertemuan semua rektor yang ada di Thailand dan Indonesia, yang kemudian berdiskusi untuk membahas sebuah topik. Khusus tahun ini topik yang dipilih adalah mitigasi bencana. Untuk itulah Syafir berharap, pertemuan ini bisa melahirkan program-program yang efektif dalam menghadapi bencana.
“Sejauh ini konferensi CRISU-CUPT berjalan cukup efektif, hal ini ditandai dengan banyaknya mobilisasi atau pertukaran di tingkat mahasiswa, peneliti serta telah banyak melahirkan program unggulan,” jelas Syafsir.
Kepala BAPPEDA Aceh Azhari Hasan mengatakan, Pemerintah Aceh sangat mengapresiasi terlaksananya konferensi ini. Apalagi tema yang dipilih yaitu mitigasi bencana merupakan isu yang sangat penting di Aceh. Menurut Azhari, penanganan bencana adalah tanggung jawab bersama termasuk perguruan tinggi.
“Maka kita harus bergerak bersama. Semua pihak harus saling berkolaborasi dan membantu sehingga langkah penangan bencana bisa berjalan efektif. Untuk itu, perlu banyak komunitas yang peduli pada isu ini agar program-program mitigasi bisa berjalan baik,” ungkap Azhari.
Dalam konferensi ini peserta yang hadir dari Thailand terdiri dari presiden dan wakil presiden Universitas di Thailand, 18 dekan dan wakil dekan, dosen dan 26 mahasiswa. Sementara Indonesia terdiri dari 34 rektor dan wakil rektor, 55 dekan dan wakil dekan, dan 21 mahasiswa.
Adapun para pematerinya adalah Vice President for Research Chiang Mai University Assoc. Prof. Sampan Singharajawapan,PH. Perwakilan UNESCO Ardito M Kodijat, Jurnalis Kompas Ahmad Arif, M.Si, Peneliti ITB Dr. Eng Hamzah Latief, Peneliti TDMRC Unsyiah Dr. Syamsidik dan Dr. Nazli Ismail.
Turut hadir Deputi Koordinasi Urusan Politik Luar Negeri Kemenkumham H.E Lutfi Rauf dan Chairman of CUPT Prof.Dr. Suchatvee Suwansaat.