
Universitas Negeri Manado (UNIMA) adalah salah satu peserta Musabaqah Tilawatil Quran Mahasiswa Nasional (MTQMN) XVI. Kafilah ini tergolong unik, karena rombongan mereka bukan hanya berisi orang-orang muslim. Tapi turut hadir pula pejabat Universitas yang notabanenya adalah non muslim.
Kondisi ini bukan tanpa alasan. Mengingat di kampus tersebut, jumlah mahasiswa muslim adalah minoritas. Maka pada perhelatan inipun mereka hanya mengirimkan sembilan orang mahasiswanya. Mereka akan bertanding pada cabang tilawah, tartil, debat Bahasa Inggris dan Khat.
Ternyata, jumlah yang sedikit tersebut tidak membuat mereka berkecil hati. Mereka justru bersyukur karena kafilahnya mendapatkan dukungan penuh dari pimpinan Universitas, sekalipun mereka adalah non muslim.
Ada tiga pejabat UNIMA yang turut hadir bersama Kafilah ini. Di mana mereka semua adalah non muslim, yaitu Pembantu Dekan III FMIPA UNIMA Prof. Herry Sumampouw, Pembantu Dekan III Fakultas Bahasa dan Senin Drs. Arie Tulus, M.Pd dan Pembantu Dekan III Fakultas Ilmu Pendidikan Dr. Mesty Rindengan. M. Pd.
Mereka mengakui bahwa ini adalah kali pertama datang ke Aceh. Mereka pun menghormati nilai-nilai kearifan masyarakat Aceh.
Prof. Herry mengatakan, meskipun mereka adalah seorang non muslim. Namun mereka tetap semangat untuk memotivasi mahasiswanya agar tampil maksimal pada MTQMN ini. Ia juga bercerita, bagaimana kampusnya benar-benar serius untuk ikut serta pada event dua tahunan ini. Setiap mahasiswa muslim diseleksi ketat mulai dari tingkat fakultas.
“Jadi yang tampil di sini, benar-benar mahasiswa kami yang terpilih,” ujarnya.
Dari segi jumlah, mereka sadar bahwa kafilah UNIMA tidak mungkin tampil sebagai juara umum. Oleh sebab itu, mereka datang dengan semangat yang lebih istimewa yaitu menyambung tali persaudaraan dengan kafilah lainnya.
“Kami datang jauh dari Manado untuk menyebarkan semangat silaturrahim,” ucap Prof. Herry penuh semangat.
Ketua Kafilah UNIMA Dr. Mardan Umar, M.Pd yang merupakan satu-satu pejabat UNIMA yang muslim pada kafilah ini menjelaskan, bahwa jumlah mahasiswa muslim di UNIMA tergolong sedikit. Jumlahnya hanya sekitar 1000 orang dari total 20.000 mahasiswa. Namun di sana semangat toleransi antar agama terjalin begitu kuat. Dalam interaksi sosial, mereka juga tidak terlalu mempermasalahkan latar belakang agamanya.
Dukungan penuh Rektorat terhadap Kafilah ini, sebenarnya adalah bukti nyata bahwa nilai-nilai toleransi terjalin baik di kampus tersebut. Mahasiswa benar-benar didorong untuk beprestasi. Tidak peduli apapun latar belakang agamanya.
“Atas nama pendidikan, kampus akan selalu support,” ucapnya.